Jumat, 12 Juli 2013

Melukis Senja





"Aku mau kita putus"
"Lagi?" Jawabku dengan tenang, ini kali ketiga ada permintaan putus. Satu tanganku memegang gagang telepon, satu lagi memegang cangkir sambil mengisi air dari dispenser. Air panas menciprati tanganku karena itu refleks kuletakkan telepon ke meja pantry. Setelah mengelap tanganku kuambil kembali teleponku, kali ini kuselipkan antara telinga dan bahu kiriku.
"Kamu dengerin aku ga sih?!" Bentak Alia di seberang telepon.
Alia, cewek manis hmmm tadinya, yang kupacari 2 bulan belakangan.
Dari nada bicaranya, sepertinya aku melewatkan beberapa omelannya ketika telepon kuletakkan tadi. Sukur deh, pikirku.
"Iya, dengerin sayangku. Aku lagi lembur nih" jawabku, lama-lama jengah juga.
"Ya udah kita putus. Kamu denger. PUTUS. P U T U S. Titik."
Tut tut tut

Telepon ditutup seketika. Kuletakkan kembali telepon ke atas meja. Malam ini kopi pahit, kulewati krimer, kulewati gula, yak kuraih tempat kopi. Harus kopi pahit, agar bisa mengenyahkan kantukku. Malam ini aku harus merampungkan deadline editan naskah sebelum besok pagi dicek oleh bigboss. Buku seri pengetahuan yang diterjemahkan oleh anak baru, Lea. Baru satu bulan ia masuk kantor ini, sehingga aku masih harus banyak mengoreksi hasil kerjaannya. Sengaja dia aku suruh lembur, supaya tahu poin-poin mana yang harus dia ingat.
Meja kerjanya cukup jauh dari tempatku, komunikasiku dengannya selama ini melalui message antarsistem komputer. Tapi malam ini aku sudah minta ijin ke Pak Joko, kepala bagian editor supaya aku pindah ke meja Wati, anak layout yang duduk di depan meja Lea.
Untuk pindah tempat aku cuma perlu menggotong naskah, pekerjaan mengedit lebih banyak aku kerjakan langsung di naskah.
"Mas Vit, pulang yuk. Aku ngantuk nih." Tiba-tiba ada suara dari belakangku, plus tepukan kencang di punggung. Aku melonjak kaget, wajar kan, kantor udah sepi, tinggal beberapa gelintir orang yang ada. Apalagi ini malem Jumat.
"Kamu ini ngagetin aja!" Bentakku, sementara dia malu-malu nyengir.
"Aku ngantuk Mas. Lagian udah jam 9. Aku ga berani pulang nanti." Lea merajuk di depanku.
Baru juga jam 9, batinku. Belum tahu dia, kantor ini bisa buka sampai tengah malam apalagi kalau ada naskah yang benar-benar deadline.
"Udah gampang, nanti aku anterin." Kataku sambil melewatinya. Tak lupa kopi yang baru saja kubuat, kuangkut ke meja Wati.
Lea membuntuti di belakangku, menarik kursinya dan duduk di depanku.
Kali ini ia bertopang dagu di depanku. Aku memilah naskah yang tadi sudah aku pisah untuknya. Tugasku hanya mengedit, nanti bagian layout yang akan mengoreksi. Sementara Lea sebagai penerjemah hanya menerjemahkan naskah dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Setelah tugasnya selesai tinggal urusanku sebagai editor dengan bagian layout. Biasanya naskah hasil editanku yang penuh coretan akan membuat bagian layout marah-marah. Karena itu aku menyuruh Lea tetap tinggal agar aku sekalian bisa mengajarinya.
Kuakui daya tangkapnya lumayan cepat untuk ukuran anak baru. Aku melirik wajahnya, kulitnya kuning langsat. Senyum selalu membingkai wajahnya. Rambutnya sebahu, hanya saja dia jarang menggerainya, lebih sering mengikatnya asal atau menggelungnya ke atas. Dengan pensil atau pulpen ia menahan jepitan rambutnya.
Leher jenjangnya semakin jelas terlihat. Matanya besar, tapi anehnya tampak sesuai dengan wajahnya.
Lea baru saja lulus dari kampusnya, ini pekerjaan pertamanya. Sementara aku, sudah 2 tahun mendekam di kantor ini.
"Kenapa Mas?,,ga beres-beres loh nanti kalau ngeliatin aku mulu. Kapan pulangnya?" Ia menangkapku yang tengah mengamatinya.
"Tadi, pacarnya ya yang marah.?" Tanyanya iseng.
Hah, kok dia bisa tahu. Hmm, anak ini.
"Kamu nguping ya tadi?!" Aku balik bertanya padanya.
Dia tambah nyengir.
"Tadi panggil-panggil sayang. Ya pasti pacarnya, masa iya ke si bibik di rumah manggil sayang."
Aku melotot ke arahnya, kurang asem emang bocah ini. Dia ketawa lebar, sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
"Iya, dia minta putus." Jawabku, yang kemudian aku sesali. Kenapa juga aku cerita padanya.
Gantian dia yang membelalakkan matanya. Tatapannya berubah, seolah menyesal.
"Yahhh,,maaf mas. Aku kan ga tahu."
Hei tenang sayang, aku cuma putus cinta. Bukan ditinggal mati kekasih.
"Tenang aja, mas kan ganteng tuh. Pasti banyak yang antre." Lanjutnya.
Kujitak kepalanya seketika.
"Sok tahu kamu."
Refleks dia menangkis. Kami pun tergelak bersamaan. Tanpa menyadari Pak Joko berdiri di samping meja kami. Dia terlihat sudah menenteng tasnya.
"Pulang pak?" Tanyaku.
"Enggak Vit, mau nginep. Pindah kamar aja ke gudang."
Seketika aku dan Lea ngakak bersamaan. Pak Joko ini emang asyik orangnya, meski sudah berumur tapi dia tetap berjiwa muda.
"Ha ha ha...silahkan Pak. Nemenin pak sekuriti." Tambahku.
"Udah pada pulang sana. Jangan lembur terus, tar pacaran lagi."
Aku mengernyit mendengar kata-katanya. Lea tampak kaget juga. Kami berpandang-pandangan.
Belum selesai aku membalas, Pak Joko sudah berlalu. Lea menunduk malu di depanku. Pipinya bersemu merah. Kenapa anak ini jadi malu-malu di depanku. Seingatku tadi dia berani menggodaku.
"Ga usah didenger kata Pak Joko tadi. Dia emang suka gitu. Apalagi sama anak baru." Kataku menenangkan Lea.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jam 9 lebih 15. Rasanya cukup, besok data harus final sebelum makan siang. Aku akan membantu melobi Pak Joko, agar bisa dimundurkan tenggat waktunya. Toh dia juga lihat perjuanganku dan Lea.
"Pulang yuk." Ajakku.
Lea langsung bersemangat. Dengan terburu-buru ia merapikan tasnya. Secara sembarangan memasukkan barang-barang dari lacinya ke dalam tas. Tiba-tiba berdiri di depanku.
"Yuk"
Aku bengong. Nih anak, makannya apa sih. Gayanya gitu banget, batinku.
"Buset, cepet bener neng." Tanyaku heran.
"Ya udah, kamu duluan aja. Aku masih lama, belum juga beres-beres."
Lea menggeleng. Ia membantuku merapikan kerjaanku, lalu menyodorkan cangkir kopiku.
"Apa?" Tanyaku.
"Minum. Abisin" jawabnya.
Aku menurutinya. Ia memberiku tanda agar aku benar-benar menghabiskan kopiku. Lea segera menarik cangkirku, ia beranjak ke mejanya. Menarik lacinya dan mengeluarkan tisu basah. Aku mengernyit heran.
Ia mengelap cangkir bekas kopiku dengan tisu basah....Setelah bersih ia menyodorkan cangkir kepadaku.
"Nih, besok aja nyucinya. Lagian kopi pahit kan, semut juga ga doyan. Tar pada begadang kalo pada nyicipin."
Aku masih heran dengan kelakuan bocah ini, sementara dia ketawa melihatku yang kebingungan dengan tingkahnya. Lagipula, darimana dia tahu, kopi yang kuminum itu kopi pahit?
Dengan segera kubereskan meja Wati. Merapikan dari segala kemungkinan dia untuk marah-marah padaku besok karena mengacaukan mejanya.
Aku melirik monitor di atas meja Lea.
"Tuh, masih nyala" tunjukku.
"Yah..lupa" dengan segera dia mematikan komputernya, terakhir tak lupa mencabut colokan listrik.
Sekuriti kantor kami sangat teliti, bahkan mereka memeriksa sampai hal itu. Biasanya yang lupa, esoknya akan dipanggil ke ruangan HRD. Tentu saja aku belum pernah. Aku cuma dengar  dari cerita beberapa korban yang mendapat teguran.
Aku mengamati tingkah Lea, baru aku ketemu sama cewek yang tingkahnya serampangan seperti dia. Sangat berbeda dengan sosok perempuan lainnya yang biasanya singgah di hatiku.
"Mas Vit. Ayo!" Ajakan Lea membuyarkan lamunanku, lamunan akan kisah-kisah cintaku yang seringnya berujung tragis.

#####

"Habis dari mana?" Tanyaku, ketika melihat Lea jalan melewati depan kubikelku.
"Dari Musholla Mas"
"Oh, pantesan keliat cerah gitu." Godaku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa senang setiap kali berinteraksi sama anak itu.
Seperti tebakanku, mukanya memerah. Meski kulitnya tak seputih mantan pacarku, loh kenapa jadi ke sana, tapi semburatnya tetap terlihat setiap kali ia merasa malu.
Di belakangnya kulihat Rena, anak layout lama.
"Hayo,,Vito, goda-godain Lea...Awas naksir." Katanya berkomentar.
"Ya ga papa dong, normal cowok naksir cewek. Ya ga Le..?" Tanyaku yang membuat mukanya semakin memerah.
"Duluan ya, Mas, Mbak. Aku kudu ngebut kerjaan soalnya." Pamitnya.
Sementara dia ngibrit, Rena makin bersemangat. Kini giliran aku yang dihabisinya.
"Lu naksir dia Vit?"
Aku memutar kursiku menghadap ke kubikelnya. Mejanya sebaris dengan mejaku, terpisah satu lorong. Aku menatapnya sambil mengetuk-etukkan pulpenku.
"Kenapa emang?"
"Dia udah punya pacar sih setau gue. Anaknya baik, ga belagu."
"Ya kali aja karena masih baru" balasku.
"Eh engga juga, kan bisa keliat kali Vit dari pertama juga. Tapi ngomong-ngomong bukannya lu abis jadian ya."
Aku manyun mendengar pertanyaan Rena. Dia emang ratu gosip di kantor ini. Ga bakalan ada berita tanpa melewati sensornya.
"Jomblo gue, udah putus." Jawabku sambil lalu.
"Ya udah, gue dukung deh kalo misal lu mau ngejar Lea."
Lah, ni anak. Tadi bilang udah punya pacar, sekarang malah dukung. Temen yang aneh.
"Kenapa bengong, ya gue suka aja kalo lu demen sama dia. Kalo gue liat-liat, muka kalian berdua mirip. Biasanya suka jodoh Vit kalo gitu."
"Oh ya, kalau gitu gue mau deh muka gue mirip Dian Sastro, biar gue jodoh sama dia"
"Bego lu. Dia kan udah beranak. Gue comblangin deh. Lu tahu beres aja. Oke." Katanya sambil lalu, kayaknya sih menuju meja Lea.
Wah beneran tuh anak. Ya udah lah apa ruginya, pikirku. Aku kembali menekuri buku di depanku. Buku seri cerita anak hasil translate-an anak baru juga.
"Eh tapi Vit...."
Aku mendongak dengan tiba-tiba. Kaget dengan kemunculan Rena lagi di mejaku.
"Apa?!" Jawabku sebal.
"Dia rajin shalat loh."
"Terus?" Tanyaku aneh.
"Dia Muslim bego. Lu Katolik. Yakin mau maju?"
Rena menunggu jawabanku, sementara aku nggak tahu harus menjawab apa.

#####

Berbekal beragam info dari Rena aku pun mendekati Lea. Anaknya memang asyik, hubungan dengan sesama temennya juga tergolong baik. Urusan kerjaan sejauh ini lancar. Tadinya aku cuma iseng, kini aku semangat mengejarnya.
Dia layak masuk kualifikasi. Meski sering ganti cewek begini, aku termasuk pemilih untuk urusan pacaran. Meski seringnya salah. Termasuk yang terakhir kemarin.
Tapi, dengan Lea terasa beda. Boleh sebut gombal, tapi kenyataannya dia tahu segala dan nyambung. Terasa seperti 'klik', kami kadang menertawakan sesuatu berdua, padahal kami tak hanya berdua. Seringnya hanya aku dan dia yang paham. Sense of humournya tinggi.
Apalagi yang kurang, dia manis, lucu, nyambung. Lengkap, terlalu lengkap malah karena dia udah punya pacar.
Tapi, aku bertekad merebutnya. Janur kuning belum melengkung kan?
"Pagi Le..." Sapaku begitu melihatnya duduk manis di kubikelnya. Dia sedang mengobrol dengan Wati, sambil mengaduk-aduk gelas kopinya.
"Buset, pagi-pagi udah bikin es kopi."
Lea cuma nyengir, sementara Wati menatapku dengan tatapan menuduh.
"Daripada Lu, pagi-pagi ngider aja."
"Ngider itu baik untuk kesehatan Wat" balasku.
"Mas Vit ngapain? Nyariin aku?"
"Iya dong, masa iya aku nyariin si Wati." Sejak awal, entah kenapa aku membahasakan diriku dengan 'aku' hanya ketika aku ngobrol dengannya.
"Sialan Lu, Vit" kata Wati sambil berdiri menyenggol pundakku.
"Minggir, gue mau ke pantry. Males pagi-pagi dengerin playboy melancarkan serangan."
Aku merapat, kesempatan. Bisa deket ke kursi Lea.
"Eh tar malem bareng aku aja. Aku kan lewat depan rumahmu."
"Kan aku bawa motor sendiri. Lupa ya..."
Aku menepuk jidatku, iya juga. Tapi, kesempatan adalah kesempatan.
"Ya udah kita tetep bareng."
Lea menatapku dengan mata besarnya yang indah. Terlihat bingung.
"Ya kamu naek motor kamu, aku naek motor aku. Oke, deal."
Aku menarik tangannya, menggenggamnya erat, mengesahkan persetujuan kami, diiringi tatapan penuh kebingungan Lea.

#####

Aku mematut-matut diriku di depan kaca spion. Setelah 3 bulan dengan gencar mendekati Lea, akhirnya mau juga dia aku ajak keluar. Bukan kencan yang romantis, tapi ke Toko Buku. Bukan toko buku besar pula, bosen katanya. Kami berencana hunting toko buku bekas.
Ya, bekas, second . . . . . . Bukan karena pelit, tapi memang karena faktor kuantitas.
“Buku bekas kalau kita jeli banyak yang masih bagus kok.” Begitu jawabannya saat aku tanya kenapa dia ga milih beli di toko buku besar aja.
“Lagian, harganya miring Mas. Bayangin aja dengan duit berapa bisa dapet setumpuk.”
Nah, ini aku suka. Irit, hemat, cocok jadi istri. Hmmm,,,,kenapa jadi mikir ke sana ya.
Cuaca terik panas menyengat, untungnya kali ini Lea mau aku jemput.
Lea tampak berjalan ke arah tempat pertemuan kami. Rambut panjangnya kali ini dikuncir ekor kuda, dibalut celana jins hitam, kaos putih tak lupa cardigan.
“Hai Mas, udah lama?”
Ia mendekat ke arahku, di tangannya ia membawa helm. Satu lagi yang aku suka darinya, ga pernah ngerepotin orang lain.
“Ga juga, naek yuk. Keburu sore tar.”
Dia membonceng di belakangku dengan segera. Kemarin kami sudah menentukan toko buku mana saja yang akan kami datangi. Jadi, lebih menghemat waktu. Sorenya kami bisa ngabuburit sekalian, kata Lea. Kebetulan memang ini bulan puasa.
Tiba di toko buku pertama, Lea memekik kegirangan. Dia berhasil menemukan novel yang sudah lama dia cari, yang di toko buku besar sudah tidak naik cetak. Aku mengamatinya sambil mencari buku sendiri untukku. Melihatnya, aku menjadi tahu. Hanya dengan melihatnya bahagia membuatku bahagia. Bahagia itu sederhana.
Satu jam kami berada di sana, Lea belum puas. Kami lanjutkan hunting ke toko buku kedua. Di sana dia tambah bahagia, setumpuk komik dia bawa pulang. Komik yang dia suka sedari kuliah, berhasil dia dapatkan 10 seri sekaligus. Aku, cukup puas membawa satu buah autobiografi Hitler.
Kami sedang akan menuju ke lokasi ketiga, ketika dengan tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ia menatapku dengan tatapan menyesal.
“Ya Ampun, ini kan udah lewat makan siang. Maaf banget Mas, aku lupa. Kita cari tempat makan yuk.” Ajaknya.
Aku menatapnya bingung.
“Memang kamu ga puasa?”
“Puasa, emang kenapa. Mas aja yang makan. Aku nungguin kan ga papa.”
Aku menggeleng,
“Ya ga lah. Ayo kita lanjut lagi.” Ajakku.
Kali ini giliran Lea menggeleng. Ia mengamati sekitar, kemudian menggandengku menuju cafe kecil yang terletak di samping toko buku.
“Aku tau, Mas Vit kan paling ga kuat nahan laper. Udah ngaku aja. Sekarang Mas pesen.”
Aku masih bergeming, tiba-tiba ia berinisiatif memanggil pelayan. Ia memesan makanan kesukaanku. Sejujurnya, aku memang lapar dan sangat sangat haus.
Dengan paksaan aku pun makan di depan Lea, sementara ia dengan asyiknya membaca komik di depanku.
Raut mukanya berubah-ubah, sesekali ia tertawa terbahak-bahak.
“Komik apa sih?” tanyaku.
“Komik silat Korea, lucu deh. Kalau Mas Vit mau, nanti deh aku pinjemin.”
“Boleh-boleh .....”
Aku menghabiskan makananku dengan cepat. Rasanya canggung makan di depan orang berpuasa. Setelah selesai mencuci tangan, aku menarik napas. Ada satu ganjalan di hatiku yang harus segera kutanyakan padanya.
“Ehmm.....Kalau kamu jalan sama aku gini, tar pacar kamu ga marah?”
Lea mendongakkan wajahnya, mengalihkannya dari komik yang ia baca. Ia menatapku sambil tersenyum manis.
“Engga, udah putus kok.”
Ehm....aku menelan ludah. Rasa gugup yang tadi ada, seketika mencair. Bahkan berganti keberanian.
“Kita pacaran yuk?” ajakku.
“Nanti deh, aku pikir-pikir dulu.” Ia kembali menekuri komiknya, sementara aku ga sabar.
“Nanti kapan?” tanyaku lagi.
“Abis satu komik yah.” Jawabnya yang membuatku makin gelisah.

#####

“Ga berasa yah, udah bulan puasa lagi.”
“Iya, udah setaun yah kita jalan bareng.”
Aku dan Lea sedang berada di tempat favorit kami. Sebuah tempat yang tak sengaja kami temukan. Sebuah jalan di mana tepat di depan kami berbatas tembok adalah jalan bebas hambatan. Di samping jalan merupakan tanah rumput. Selain kami, banyak juga orang yang sengaja duduk-duduk di situ melepas sore.
Angin sore yang segar, memandang ke depan lalu lalang mobil yang tak pernah berhenti. Memandang ke atas merupakan kenikmatan tersendiri lagi. Langit luas terbentang. Apalagi sore begini, semburat senja begitu indah. Kami sering duduk-duduk di sini. Tempat ini memiliki banyak kenangan. Ketika kami marah, kesal, berantem, kami akan kembali berbaikan di sini.
Seringkali kami mengamati awan, melukis langit. Menamai awan dengan beragam bentuk. Kami juga mendiskusikan segala hal di sini.
“Ibu akhirnya tahu perbedaan kita Mas.”
“Terus?”
“Aku dimarahin.”
“Aku juga, malah dari awal kita dekat.” Jawabku.
Lea menarik napas.
“Kita harus putus berarti?”
Aku menatapnya marah.
“Apa cuma segitu perjuangan kita. Aku cinta kamu, aku ga pernah seyakin ini dengan orang lain. Aku bahkan berniat melamar kamu.” Jawabku dengan suara keras.
Lea tak menatapku, hanya menatap kejauhan.
“Tapi apa bisa? Kita udah bahas ini berulang kali. Ujungnya mentok. Ga bisa maju, yang ada berhenti. Mas ke kanan, aku ke kiri. Selesai.”
Segampang itu, kalau memang semua bisa segampang itu aku juga mau. Tapi, ini masalah hati.
“Kita bisa nikah kok. Di catatan sipil, banyak yang begitu, kenapa kita engga.”
“Nikah....Kita dalam satu perahu, tapi arah yang kita tempuh beda. Apa itu bisa?” Setitik air mata muncul di matanya. Ia tetap tak ingin menatapku.
 “Salah satu dari kita harus ngalah. Kamu yang pindah atau aku yang pindah.”
“Pindah, kamu atau aku. Pindah .... “ Lea mengulangi kata-kataku.
Ia memalingkan wajahnya ke arahku, menatapku tajam dan memberiku pertanyaan yang menohok hatiku.
“Jika Tuhan aja kita khianati, apa kita masih bisa saling percaya bahwa kelak suatu saat salah satu dari kita tidak akan berkhianat dengan manusia lainnya?”
Aku tak berani membalas pertanyaannya. Aku hanya bisa mengacak rambutku frustasi.
Langit senja tak lagi bersahabat denganku.

# # # # #

Setiap awal pasti berakhir. Sekuat apapun kami mencoba, jalan temu masih belum ada.
Mulai dari perang emosi hingga ke perang dingin kami lewati. Untung aku sudah tak sekantor dengannya. Minggu ini sengaja kami gunakan untuk berkontemplasi, meminjam istilah kerennya.
Lea dan aku tak saling menghubungi. Berat, sangat berat. Hatiku tak bisa bohong, aku ingin Lea dalam hidupku ke depan. Semua sudah terasa pas, andai ganjalan itu tak ada.
Kami seharusnya janjian bertemu di tempat biasa. Ia menolak aku jemput. Ia bilang ribet kalau harus pulang dan menyimpan motornya dulu.
Karena ia tak bisa keluar cepat dari kantor, maka kami bertemu tepat saat waktu berbuka. Aku mengantarnya untuk shalat maghrib di masjid.
Sebetulnya sudah biasa, kami seperti ini. Meski kami berbeda, tapi kami saling menghargai. Biasanya aku hanya akan menunggunya di parkiran, tapi entah kenapa aku merasa hari ini berbeda. Aku berjalan beriringan dengannya menuju pintu masuk.
Lea seperti biasa tersenyum ketika kami berpisah.
"Aku sholat dulu ya, mungkin agak lama. Biasanya ada cemilan buat batalin puasa."
Aku mengangguk dan memilih tempat untuk menunggunya.
20 menit kemudian Lea keluar. Wajahnya bercahaya, membuatku semakin gentar dengan keputusan yang akan kuambil.
Kami bergerak menuju tempat makan. Tak ada yang bergerak untuk menyantap ketika hidangan telah sampai di meja kami.
"Ayo makan, kamu kan puasa seharian." Aku menyorongkan piring ke arahnya.
"Mas Vit juga ga makan." Balasnya
"Aku laper, tapi laper karena ga liat kamu seminggu ini." Kataku jujur.
Lea memerah, semburat yang sama seperti ketika aku pertama mengenalnya.
"Aku mau ngomong Mas."
"Kamu makan dulu, nanti kita bahas abis makan ya."
Aku mengelus rambutnya perlahan, kebiasaanku untuk menunjukkan rasa sayangku padanya.
Lea terlihat tak bernafsu, apalagi aku. Tapi, ia tetap berusaha memakannya, setidaknya biar aku tenang.
Ia masih memakai setelan kerjanya, kemeja lengan pendek dan rok selutut. Manis, seperti biasanya.
Mataku tak bisa lepas darinya, merangkumnya dalam memoriku. Kenangan akan sosok gadis manis yang setahun belakangan menjungkirbalikkan akal sehatku.
Entah apakah itu berlaku juga untuknya. Hanya saja yang kutahu, ia sedikit kurus sekarang. Sesuatu yang menusukku dalam, mengetahui orang yang kucintai menderita akibat hubungan ini.
"Kamu tahu, tadi waktu aku nungguin kamu ada kejadian lucu."
"Oh ya, emang Mas Vit nungguin aku di mana."
"Di samping pintu masuk laki-laki."
Lea manggut-manggut.
"Terus lucunya di mana?"
"Tadi ada bapak-bapak ngasih aku makanan buat buka puasa. Pas aku tolak dia bingung, aku bilang kalau aku ga puasa."
"Terus?" Cecar Lea.
"Saya Katolik Pak, saya nganterin  pacar saya lagi sholat." Aku tersenyum, miris.
"He he he." Lea memaksakan diri untuk senyum.
"Maaf ya Mas, makanannya ga habis. Kenyang tadi sama makanan di masjid." Kata Lea beralasan. Aku tahu, ia cuma tak bernafsu.
Aku menarik tangannya ke dalam genggamanku. Kutatap mata indahnya, berharap ia tahu apa yang kurasa. Ini saatnya,
"Kamu pernah nyesel kita ketemu?"
Lea menggeleng.
"Kalau aku, aku bodoh kalau misal melewatkan kamu. Jadi, ga pernah sedikitpun aku nyesel."
Kugenggam tangannya semakin erat.
"Kamu marah sama Tuhan, kenapa kita dipertemukan."
Lea mengangguk, air mulai menggenangi matanya. Menunggu saatnya terlepas.
"Jangan marah. Tuhan itu baik. Meski tak berujung, tapi setidaknya aku sempat memiliki kamu." Aku berdeham, menjaga intonasi suaraku agar tetap tegar.
"You're the best thing ever happened to me. Aku jatuh cinta sama kecerdasan kamu. Kamu sama aku itu ibaratnya berada pada panjang gelombang yang sama. Duniaku itu kamu. Masa depanku itu ya kamu, kalau aku boleh milih....."
Aku berhenti, air mata mulai menetes di pipi Lea.
Ya Tuhan, aku ga sanggup. Haruskah aku melepaskan setengah jiwaku, apa aku masih bisa hidup.
"Saat aku ngajakin kamu dalam suatu hubungan, aku ga pernah tahu akan sedalam ini."
"Aku juga Mas. Aku ga tahu akan sejauh ini rasaku buat kamu." Kata Lea sambil tergugu. Tangan kami masih saling menggenggam.
"Seperti kata kamu, arah kita beda. Sekarang kita tepat di persimpangan. Saatnya memilih jalan terbaik. Meski aku ga tahu akan jadi apa ke depannya. Aku pengen kamu bahagia."
Klise, aku juga pengen bahagia Tuhan, bersamanya...protesku.
"Terima kasih, untuk semua hal baik yang pernah kita jalani. Aku..aku..." Akhirnya aku pun tak kuat. Aku terkulai kalah, aku menundukkan wajahku, menghindari tatapannya.
Aku, lelaki, menangis karena cinta. Hal yang tak pernah aku lakukan.
"Aku...cinta kamu. Banget."
Lea menarik wajahku. Kami sama-sama menangis.
"Aku tahu Mas, pada suatu titik kita akan seperti ini. Tak bisa menghindar, apalagi menolak. Terima kasih untuk tak memaksakan hubungan ini. Makasih untuk keberanian Mas menghentikan semuanya di saat ini. Karena kini ataupun nanti akan sama, sakitnya mungkin jauh lebih hebat nanti."
Lea menarik napas sebelum melanjutkan.
"Tuhan pasti memiliki rencana di balik semua ini. Just wait and see."
Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya.
"Mungkin ini biasa, tapi...jangan lupain aku ya." Aku memohon padanya.
Lea tersenyum.
"Mas tahu, hatiku tak lagi utuh. Separuhnya ada di Mas. Mungkin aku bisa lupa, tapi hatiku akan selalu mengingat sebagian dirinya yang ada di dirimu."
"Besok tak akan lagi sama tanpamu."
"Waktu...waktu akan memudarkan kenangan kita perlahan Mas."
Aku melepaskan genggaman tangan kami. Aku berdiri, menariknya serta.
"Aku boleh....peluk kamu."
Dengan senyum termanisnya, Lea mengangguk dan menghambur ke arahku.
Kami berpelukan erat, tak peduli pada keadaan sekitar.
Tubuh kami sama-sama terguncang, menyadari ini adalah pelukan terakhir kami sebagai pasangan. Setelah sama-sama tenang, aku melepaskan dekapanku darinya.
"Cinta kita tak pernah salah. Sebaliknya akan salah kalau aku dulu gak jatuh cinta sama kamu. Terima kasih...Cinta." Bisikku lirih di telinganya.

Ya, cinta tak salah mendatangi kami. Jadi, siapa yang salah. Tak ada yang salah, mencintai Lea adalah prestasi terhebatku. Mengenalnya mengajariku apa itu toleransi. Keberagaman, kebersamaan, serta saling memberi dan menerima. Namun, sejauh apapun manusia berusaha, Tuhan juga yang menentukan. Jika ini memang jalan terbaik, tak seharusnya aku terus meratap. Hanya berharap Tuhan segera membukakan rencana-Nya di balik semua ini.


Ku yakin kita akan bahagia
Tanpa harus selalu bersama
Tak perlu disesali
Tak usah ditangisi

Ku yakin ini jalan terbaik
Walau kita tak lagi berdua
(Jalan terbaik, Seventeen)

5 komentar:

  1. hiks....hiks....hiks akhirnya mereka ngk bisa bersatu :'(:'( mbk mey semangat trs ya nulisnya ;-)

    BalasHapus
  2. kasian banget.... padahal mereka cocok banget bersama. gak bs ngasi solusi pun, biarkan aja dah mereka dengan cinta indah mereka, karena suatu hari nanti mereka akan masih bisa tersenyum karena ingat bahwa mereka pernah jatuh cinta sebegitu dalam.

    very nice story say.... bahasanya enak banget, mengalir dengan lancar, lucu, menggelitik meski udah tau bakal sesek jg akhirnya tp tetep baca. hahaha.... konfliknya sesuatu... hehehehe.... :muwah:

    BalasHapus
  3. Hiks iya neeee aku akan semakin bersemangat...hikzzzz kok jadi sedih2an gini yaaaaaaaa

    BalasHapus
  4. huwaaaa,,ketebak ya Mbak Shin kalo endingnya bakal sesek di dada,,,(soalnya pake yg 34 sih,,bisanya kan 36,,#apa sehhhh)

    yuppyyy,,,sesuatu yaaa?...hmmm..it's really happen mbak
    ,,i try to write it,,banyak kan kisah2 kayak gitu,,kalo ada yang jadi ya berarti emang jodohnya,,

    *lari ke kamar, ambil tissuee,,huwaaa huwaaaa

    BalasHapus
  5. Ini yg ngomong mbak ky apa bimo ya
    Berasa adabimo dah dimari
    Hehehehehe

    Ya ampyunnnn mimpi apa semalem
    Author2 pujaan mampir kesini
    Ngasih komen yang bikin semangat

    Nyamuknya ga jadi modarrrrr
    Udah pasang anti keplak katanya

    End of discussion,,,,MUACH

    BalasHapus