"Aku mau kita
putus"
"Lagi?"
Jawabku dengan tenang, ini kali ketiga ada permintaan putus. Satu tanganku memegang gagang telepon, satu lagi
memegang cangkir sambil mengisi air dari dispenser. Air panas menciprati
tanganku karena itu refleks kuletakkan telepon ke meja pantry. Setelah mengelap
tanganku kuambil kembali teleponku, kali ini kuselipkan antara telinga dan bahu
kiriku.
"Kamu dengerin
aku ga sih?!" Bentak Alia di seberang telepon.
Alia, cewek manis
hmmm tadinya, yang kupacari 2 bulan belakangan.
Dari nada bicaranya,
sepertinya aku melewatkan beberapa omelannya ketika telepon kuletakkan tadi.
Sukur deh, pikirku.
"Iya, dengerin
sayangku. Aku lagi lembur nih" jawabku, lama-lama jengah juga.
"Ya udah kita
putus. Kamu denger. PUTUS. P U T U S. Titik."
Tut tut tut
Telepon ditutup
seketika. Kuletakkan kembali telepon ke atas meja. Malam ini kopi pahit,
kulewati krimer, kulewati gula, yak kuraih tempat kopi. Harus kopi pahit, agar
bisa mengenyahkan kantukku. Malam ini aku harus merampungkan deadline editan naskah sebelum besok
pagi dicek oleh bigboss. Buku seri pengetahuan yang diterjemahkan oleh anak baru, Lea. Baru
satu bulan ia masuk kantor ini, sehingga aku masih harus banyak mengoreksi
hasil kerjaannya. Sengaja dia aku suruh lembur, supaya tahu poin-poin mana yang
harus dia ingat.
Meja kerjanya cukup
jauh dari tempatku, komunikasiku dengannya selama ini melalui message antarsistem komputer. Tapi malam ini aku sudah minta ijin ke Pak
Joko, kepala bagian editor supaya aku pindah ke meja Wati, anak layout yang
duduk di depan meja Lea.
Untuk pindah tempat
aku cuma perlu menggotong naskah, pekerjaan mengedit lebih banyak aku kerjakan
langsung di naskah.
"Mas Vit, pulang
yuk. Aku ngantuk nih." Tiba-tiba ada suara dari belakangku, plus tepukan
kencang di punggung. Aku melonjak kaget, wajar kan, kantor udah sepi, tinggal
beberapa gelintir orang yang ada. Apalagi ini malem Jumat.
"Kamu ini
ngagetin aja!" Bentakku, sementara dia malu-malu nyengir.
"Aku ngantuk Mas. Lagian udah jam 9. Aku ga berani pulang
nanti." Lea merajuk di depanku.
Baru juga jam 9,
batinku. Belum tahu dia, kantor ini bisa buka sampai tengah malam apalagi kalau
ada naskah yang benar-benar deadline.
"Udah gampang,
nanti aku anterin." Kataku sambil melewatinya. Tak lupa kopi yang baru
saja kubuat, kuangkut ke meja Wati.
Lea membuntuti di
belakangku, menarik kursinya dan duduk di depanku.
Kali ini ia bertopang
dagu di depanku. Aku memilah naskah yang tadi sudah aku pisah untuknya. Tugasku
hanya mengedit, nanti bagian layout yang akan mengoreksi. Sementara Lea sebagai
penerjemah hanya menerjemahkan naskah dari bahasa asing ke bahasa Indonesia.
Setelah tugasnya selesai tinggal urusanku sebagai editor dengan bagian layout.
Biasanya naskah hasil editanku yang penuh coretan akan membuat bagian layout
marah-marah. Karena itu aku menyuruh Lea tetap tinggal agar aku sekalian bisa
mengajarinya.
Kuakui daya
tangkapnya lumayan cepat untuk ukuran anak baru. Aku melirik wajahnya, kulitnya
kuning langsat. Senyum selalu membingkai wajahnya. Rambutnya sebahu, hanya saja dia jarang
menggerainya, lebih sering mengikatnya asal atau menggelungnya ke atas. Dengan
pensil atau pulpen ia menahan jepitan rambutnya.
Leher jenjangnya
semakin jelas terlihat. Matanya besar, tapi anehnya tampak sesuai dengan
wajahnya.
Lea baru saja lulus
dari kampusnya, ini pekerjaan pertamanya. Sementara aku, sudah 2 tahun mendekam
di kantor ini.
"Kenapa Mas?,,ga beres-beres loh nanti kalau ngeliatin aku
mulu. Kapan pulangnya?" Ia menangkapku yang tengah mengamatinya.
"Tadi, pacarnya
ya yang marah.?" Tanyanya iseng.
Hah, kok dia bisa
tahu. Hmm, anak ini.
"Kamu nguping ya
tadi?!" Aku balik bertanya padanya.
Dia tambah nyengir.
"Tadi
panggil-panggil sayang. Ya pasti pacarnya, masa iya ke si bibik di rumah
manggil sayang."
Aku melotot ke
arahnya, kurang asem emang bocah ini. Dia ketawa lebar, sambil mengetuk-ngetukkan
pulpen ke meja.
"Iya, dia minta
putus." Jawabku, yang kemudian aku sesali. Kenapa juga aku cerita padanya.
Gantian dia yang
membelalakkan matanya. Tatapannya berubah, seolah menyesal.
"Yahhh,,maaf
mas. Aku kan ga tahu."
Hei tenang sayang,
aku cuma putus cinta. Bukan ditinggal mati kekasih.
"Tenang aja, mas
kan ganteng tuh. Pasti banyak yang antre." Lanjutnya.
Kujitak kepalanya
seketika.
"Sok tahu
kamu."
Refleks dia
menangkis. Kami pun tergelak bersamaan. Tanpa menyadari Pak Joko berdiri di
samping meja kami. Dia terlihat sudah menenteng tasnya.
"Pulang
pak?" Tanyaku.
"Enggak Vit, mau
nginep. Pindah kamar aja ke gudang."
Seketika aku dan Lea
ngakak bersamaan. Pak Joko ini emang asyik orangnya, meski sudah berumur tapi
dia tetap berjiwa muda.
"Ha ha
ha...silahkan Pak.
Nemenin pak sekuriti." Tambahku.
"Udah pada
pulang sana. Jangan lembur terus, tar pacaran lagi."
Aku mengernyit
mendengar kata-katanya. Lea tampak kaget juga. Kami berpandang-pandangan.
Belum selesai aku
membalas, Pak Joko sudah berlalu. Lea menunduk malu di depanku. Pipinya bersemu
merah. Kenapa anak ini jadi malu-malu di depanku. Seingatku tadi dia berani
menggodaku.
"Ga usah
didenger kata Pak Joko tadi. Dia emang suka gitu. Apalagi sama anak baru."
Kataku menenangkan Lea.
Aku melirik jam di
pergelangan tanganku. Jam 9 lebih 15. Rasanya cukup, besok data harus final
sebelum makan siang. Aku akan membantu melobi Pak Joko, agar bisa dimundurkan
tenggat waktunya. Toh dia juga lihat perjuanganku dan Lea.
"Pulang
yuk." Ajakku.
Lea langsung
bersemangat. Dengan terburu-buru ia merapikan tasnya. Secara sembarangan
memasukkan barang-barang dari lacinya ke dalam tas. Tiba-tiba berdiri di
depanku.
"Yuk"
Aku bengong. Nih
anak, makannya apa sih. Gayanya gitu banget, batinku.
"Buset, cepet
bener neng." Tanyaku heran.
"Ya udah, kamu
duluan aja. Aku masih lama, belum juga beres-beres."
Lea menggeleng. Ia
membantuku merapikan kerjaanku, lalu menyodorkan cangkir kopiku.
"Apa?"
Tanyaku.
"Minum.
Abisin" jawabnya.
Aku menurutinya. Ia
memberiku tanda agar aku benar-benar menghabiskan kopiku. Lea segera menarik
cangkirku, ia beranjak ke mejanya. Menarik lacinya dan mengeluarkan tisu basah.
Aku mengernyit heran.
Ia mengelap cangkir
bekas kopiku dengan tisu basah....Setelah bersih ia menyodorkan cangkir
kepadaku.
"Nih, besok aja
nyucinya. Lagian kopi pahit kan, semut juga ga doyan. Tar pada begadang kalo
pada nyicipin."
Aku masih heran
dengan kelakuan bocah ini, sementara dia ketawa melihatku yang kebingungan
dengan tingkahnya. Lagipula, darimana dia tahu, kopi yang kuminum itu kopi
pahit?
Dengan segera
kubereskan meja Wati. Merapikan dari segala kemungkinan dia untuk marah-marah
padaku besok karena mengacaukan mejanya.
Aku melirik monitor
di atas meja Lea.
"Tuh, masih
nyala" tunjukku.
"Yah..lupa"
dengan segera dia mematikan komputernya, terakhir tak lupa mencabut colokan
listrik.
Sekuriti kantor kami
sangat teliti, bahkan mereka memeriksa sampai hal itu. Biasanya yang lupa,
esoknya akan dipanggil ke ruangan HRD. Tentu saja aku belum pernah. Aku cuma
dengar dari cerita beberapa korban yang
mendapat teguran.
Aku mengamati tingkah
Lea, baru aku ketemu sama cewek yang tingkahnya serampangan seperti dia. Sangat
berbeda dengan sosok perempuan lainnya yang biasanya singgah di hatiku.
"Mas Vit.
Ayo!" Ajakan Lea membuyarkan lamunanku, lamunan akan kisah-kisah
cintaku yang seringnya berujung tragis.
#####
"Habis dari
mana?" Tanyaku, ketika melihat Lea jalan melewati depan kubikelku.
"Dari Musholla
Mas"
"Oh, pantesan
keliat cerah gitu." Godaku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa senang
setiap kali berinteraksi sama anak itu.
Seperti tebakanku,
mukanya memerah. Meski kulitnya tak seputih mantan pacarku, loh kenapa jadi ke
sana, tapi semburatnya tetap terlihat setiap kali ia merasa malu.
Di belakangnya
kulihat Rena, anak layout lama.
"Hayo,,Vito,
goda-godain Lea...Awas naksir." Katanya berkomentar.
"Ya ga papa
dong, normal cowok naksir cewek. Ya ga Le..?" Tanyaku yang membuat mukanya
semakin memerah.
"Duluan ya, Mas,
Mbak. Aku kudu ngebut kerjaan soalnya." Pamitnya.
Sementara dia
ngibrit, Rena makin bersemangat. Kini giliran aku yang dihabisinya.
"Lu naksir dia
Vit?"
Aku memutar kursiku
menghadap ke kubikelnya. Mejanya sebaris dengan mejaku, terpisah satu lorong.
Aku menatapnya sambil mengetuk-etukkan pulpenku.
"Kenapa
emang?"
"Dia udah punya
pacar sih setau gue. Anaknya baik, ga belagu."
"Ya kali aja
karena masih baru" balasku.
"Eh engga juga,
kan bisa keliat kali Vit dari pertama juga. Tapi ngomong-ngomong bukannya lu
abis jadian ya."
Aku manyun mendengar
pertanyaan Rena. Dia emang ratu gosip di kantor ini. Ga bakalan ada berita
tanpa melewati sensornya.
"Jomblo gue,
udah putus." Jawabku sambil lalu.
"Ya udah, gue
dukung deh kalo misal lu mau ngejar Lea."
Lah, ni anak. Tadi
bilang udah punya pacar, sekarang malah dukung. Temen yang aneh.
"Kenapa bengong,
ya gue suka aja kalo lu demen sama dia. Kalo gue liat-liat, muka kalian berdua
mirip. Biasanya suka jodoh Vit kalo gitu."
"Oh ya, kalau
gitu gue mau deh muka gue mirip Dian Sastro, biar gue jodoh sama dia"
"Bego lu. Dia
kan udah beranak. Gue comblangin deh. Lu tahu beres aja. Oke." Katanya
sambil lalu, kayaknya sih menuju meja Lea.
Wah beneran tuh anak.
Ya udah lah apa ruginya, pikirku. Aku kembali menekuri buku di depanku. Buku
seri cerita anak hasil translate-an anak baru juga.
"Eh tapi
Vit...."
Aku mendongak dengan
tiba-tiba. Kaget dengan kemunculan Rena lagi di mejaku.
"Apa?!"
Jawabku sebal.
"Dia rajin
shalat loh."
"Terus?"
Tanyaku aneh.
"Dia Muslim
bego. Lu Katolik. Yakin mau maju?"
Rena menunggu
jawabanku, sementara aku nggak tahu harus menjawab apa.
#####
Berbekal beragam info
dari Rena aku pun mendekati Lea. Anaknya memang asyik, hubungan dengan sesama
temennya juga tergolong baik. Urusan kerjaan sejauh ini lancar. Tadinya aku
cuma iseng, kini aku semangat mengejarnya.
Dia layak masuk
kualifikasi. Meski sering ganti cewek begini, aku termasuk pemilih untuk urusan
pacaran. Meski seringnya salah. Termasuk yang terakhir kemarin.
Tapi, dengan Lea
terasa beda. Boleh sebut gombal, tapi kenyataannya dia tahu segala dan nyambung. Terasa seperti 'klik', kami kadang menertawakan
sesuatu berdua, padahal kami tak hanya berdua. Seringnya hanya aku dan dia yang
paham. Sense of humournya tinggi.
Apalagi yang kurang,
dia manis, lucu, nyambung. Lengkap, terlalu lengkap malah karena dia udah punya pacar.
Tapi, aku bertekad merebutnya.
Janur kuning belum melengkung kan?
"Pagi
Le..." Sapaku begitu melihatnya duduk manis di kubikelnya. Dia sedang
mengobrol dengan Wati, sambil mengaduk-aduk gelas kopinya.
"Buset,
pagi-pagi udah bikin es kopi."
Lea cuma nyengir,
sementara Wati menatapku dengan tatapan menuduh.
"Daripada Lu,
pagi-pagi ngider aja."
"Ngider itu baik
untuk kesehatan Wat" balasku.
"Mas Vit
ngapain? Nyariin aku?"
"Iya dong, masa
iya aku nyariin si Wati." Sejak awal, entah kenapa aku membahasakan diriku
dengan 'aku' hanya ketika aku ngobrol dengannya.
"Sialan Lu,
Vit" kata Wati sambil berdiri menyenggol pundakku.
"Minggir, gue
mau ke pantry. Males pagi-pagi
dengerin playboy melancarkan serangan."
Aku merapat,
kesempatan. Bisa deket ke kursi Lea.
"Eh tar malem
bareng aku aja. Aku kan lewat depan rumahmu."
"Kan aku bawa
motor sendiri. Lupa ya..."
Aku menepuk jidatku,
iya juga. Tapi, kesempatan adalah kesempatan.
"Ya udah kita
tetep bareng."
Lea menatapku dengan
mata besarnya yang indah. Terlihat bingung.
"Ya kamu naek motor
kamu, aku naek motor aku. Oke, deal."
Aku menarik
tangannya, menggenggamnya erat, mengesahkan persetujuan kami, diiringi tatapan
penuh kebingungan Lea.
#####
Aku mematut-matut
diriku di depan kaca spion. Setelah 3 bulan dengan gencar mendekati Lea,
akhirnya mau juga dia aku ajak keluar. Bukan kencan yang romantis, tapi ke Toko
Buku. Bukan toko buku besar pula, bosen katanya. Kami berencana hunting toko buku bekas.
Ya, bekas, second . . . . . . Bukan karena pelit, tapi
memang karena faktor kuantitas.
“Buku bekas kalau
kita jeli banyak yang masih bagus kok.” Begitu jawabannya saat aku tanya kenapa
dia ga milih beli di toko buku besar aja.
“Lagian, harganya
miring Mas. Bayangin aja dengan duit berapa bisa dapet setumpuk.”
Nah, ini aku suka.
Irit, hemat, cocok jadi istri. Hmmm,,,,kenapa jadi mikir ke sana ya.
Cuaca terik panas
menyengat, untungnya kali ini Lea mau aku jemput.
Lea tampak berjalan
ke arah tempat pertemuan kami. Rambut panjangnya kali ini dikuncir ekor kuda,
dibalut celana jins hitam, kaos putih tak lupa cardigan.
“Hai Mas, udah lama?”
Ia mendekat ke
arahku, di tangannya ia membawa helm. Satu lagi yang aku suka darinya, ga
pernah ngerepotin orang lain.
“Ga juga, naek yuk.
Keburu sore tar.”
Dia membonceng di
belakangku dengan segera. Kemarin kami sudah menentukan toko buku mana saja
yang akan kami datangi. Jadi, lebih menghemat waktu. Sorenya kami bisa
ngabuburit sekalian, kata Lea. Kebetulan memang ini bulan puasa.
Tiba di toko buku
pertama, Lea memekik kegirangan. Dia berhasil menemukan novel yang sudah lama dia cari, yang di toko buku besar sudah
tidak naik cetak. Aku mengamatinya sambil mencari buku sendiri untukku. Melihatnya,
aku menjadi tahu. Hanya dengan melihatnya bahagia membuatku bahagia. Bahagia
itu sederhana.
Satu jam kami berada
di sana, Lea belum puas. Kami lanjutkan hunting
ke toko buku kedua. Di sana dia tambah bahagia, setumpuk komik dia bawa pulang.
Komik yang dia suka sedari kuliah, berhasil dia dapatkan 10 seri sekaligus.
Aku, cukup puas membawa satu buah autobiografi Hitler.
Kami sedang akan
menuju ke lokasi ketiga, ketika dengan tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ia
menatapku dengan tatapan menyesal.
“Ya Ampun, ini kan
udah lewat makan siang. Maaf banget Mas, aku lupa. Kita cari tempat makan yuk.”
Ajaknya.
Aku menatapnya
bingung.
“Memang kamu ga
puasa?”
“Puasa, emang kenapa.
Mas aja yang makan. Aku nungguin kan ga papa.”
Aku menggeleng,
“Ya ga lah. Ayo kita
lanjut lagi.” Ajakku.
Kali ini giliran Lea
menggeleng. Ia mengamati sekitar, kemudian menggandengku menuju cafe kecil yang terletak di samping toko buku.
“Aku tau, Mas Vit kan
paling ga kuat nahan laper. Udah ngaku aja. Sekarang Mas pesen.”
Aku masih bergeming,
tiba-tiba ia berinisiatif memanggil pelayan. Ia memesan makanan kesukaanku.
Sejujurnya, aku memang lapar dan sangat sangat haus.
Dengan paksaan aku
pun makan di depan Lea, sementara ia dengan asyiknya membaca komik di depanku.
Raut mukanya
berubah-ubah, sesekali ia tertawa terbahak-bahak.
“Komik apa sih?”
tanyaku.
“Komik silat Korea,
lucu deh. Kalau Mas Vit mau, nanti deh aku pinjemin.”
“Boleh-boleh .....”
Aku menghabiskan
makananku dengan cepat. Rasanya canggung makan di depan orang berpuasa. Setelah
selesai mencuci tangan, aku menarik napas. Ada satu ganjalan di hatiku yang harus
segera kutanyakan padanya.
“Ehmm.....Kalau kamu
jalan sama aku gini, tar pacar kamu ga marah?”
Lea mendongakkan
wajahnya, mengalihkannya dari komik yang ia baca. Ia menatapku sambil tersenyum
manis.
“Engga, udah putus
kok.”
Ehm....aku menelan
ludah. Rasa gugup yang tadi ada, seketika mencair. Bahkan berganti keberanian.
“Kita pacaran yuk?”
ajakku.
“Nanti deh, aku
pikir-pikir dulu.” Ia kembali menekuri komiknya, sementara aku ga sabar.
“Nanti kapan?”
tanyaku lagi.
“Abis satu komik
yah.” Jawabnya yang membuatku makin gelisah.
#####
“Ga berasa yah, udah
bulan puasa lagi.”
“Iya, udah setaun yah
kita jalan bareng.”
Aku dan Lea sedang
berada di tempat favorit kami. Sebuah tempat yang tak sengaja kami temukan.
Sebuah jalan di mana tepat di depan kami berbatas tembok adalah jalan bebas
hambatan. Di samping jalan merupakan tanah rumput. Selain kami, banyak juga
orang yang sengaja duduk-duduk di situ melepas sore.
Angin sore yang
segar, memandang ke depan lalu lalang mobil yang tak pernah
berhenti. Memandang ke atas
merupakan kenikmatan tersendiri lagi. Langit luas terbentang. Apalagi sore begini, semburat senja begitu
indah. Kami sering duduk-duduk di sini. Tempat ini memiliki banyak kenangan.
Ketika kami marah, kesal, berantem, kami akan kembali berbaikan di sini.
Seringkali kami
mengamati awan, melukis langit. Menamai awan dengan beragam bentuk. Kami juga mendiskusikan segala hal di sini.
“Ibu akhirnya tahu perbedaan kita Mas.”
“Terus?”
“Aku dimarahin.”
“Aku juga, malah dari
awal kita dekat.” Jawabku.
Lea menarik napas.
“Kita harus putus
berarti?”
Aku menatapnya marah.
“Apa cuma segitu
perjuangan kita. Aku cinta kamu, aku ga pernah seyakin ini dengan orang lain.
Aku bahkan berniat melamar kamu.” Jawabku dengan suara keras.
Lea tak menatapku,
hanya menatap kejauhan.
“Tapi apa bisa? Kita
udah bahas ini berulang kali. Ujungnya mentok. Ga bisa maju, yang ada berhenti.
Mas ke kanan, aku ke kiri. Selesai.”
Segampang itu, kalau
memang semua bisa segampang itu aku juga mau. Tapi, ini masalah hati.
“Kita bisa nikah kok.
Di catatan sipil, banyak yang begitu, kenapa kita engga.”
“Nikah....Kita dalam
satu perahu, tapi arah yang kita tempuh beda. Apa itu bisa?” Setitik air mata
muncul di matanya. Ia tetap tak ingin menatapku.
“Salah satu dari kita harus ngalah. Kamu yang
pindah atau aku yang pindah.”
“Pindah, kamu atau
aku. Pindah .... “ Lea mengulangi kata-kataku.
Ia memalingkan
wajahnya ke arahku, menatapku tajam dan memberiku pertanyaan yang menohok
hatiku.
“Jika Tuhan aja kita
khianati, apa kita masih bisa saling percaya bahwa kelak suatu saat salah satu
dari kita tidak akan berkhianat dengan manusia lainnya?”
Aku tak berani
membalas pertanyaannya. Aku hanya bisa mengacak rambutku frustasi.
Langit senja tak lagi
bersahabat denganku.
# # # # #
Setiap awal pasti berakhir. Sekuat apapun kami
mencoba, jalan temu masih belum ada.
Mulai dari perang emosi hingga ke perang dingin kami
lewati. Untung aku sudah tak sekantor dengannya. Minggu ini sengaja kami
gunakan untuk berkontemplasi, meminjam istilah kerennya.
Lea dan aku tak saling menghubungi. Berat, sangat
berat. Hatiku tak bisa bohong, aku ingin Lea dalam hidupku ke depan. Semua
sudah terasa pas, andai ganjalan itu tak ada.
Kami seharusnya janjian bertemu di tempat biasa. Ia
menolak aku jemput. Ia bilang ribet kalau harus pulang dan menyimpan motornya
dulu.
Karena ia tak bisa keluar cepat dari kantor, maka kami
bertemu tepat saat waktu berbuka. Aku mengantarnya untuk shalat maghrib di
masjid.
Sebetulnya sudah biasa, kami seperti ini. Meski kami
berbeda, tapi kami saling menghargai. Biasanya aku hanya akan menunggunya di
parkiran, tapi entah kenapa aku merasa hari ini berbeda. Aku berjalan
beriringan dengannya menuju pintu masuk.
Lea seperti biasa tersenyum ketika kami berpisah.
"Aku sholat dulu ya, mungkin agak lama. Biasanya
ada cemilan buat batalin puasa."
Aku mengangguk dan memilih tempat untuk menunggunya.
20 menit kemudian Lea keluar. Wajahnya bercahaya,
membuatku semakin gentar dengan keputusan yang akan kuambil.
Kami bergerak menuju tempat makan. Tak ada yang
bergerak untuk menyantap ketika hidangan telah sampai di meja kami.
"Ayo makan, kamu kan puasa seharian." Aku
menyorongkan piring ke arahnya.
"Mas Vit juga ga makan." Balasnya
"Aku laper, tapi laper karena ga liat kamu
seminggu ini." Kataku jujur.
Lea memerah, semburat yang sama seperti ketika aku
pertama mengenalnya.
"Aku mau ngomong Mas."
"Kamu makan dulu, nanti kita bahas abis makan
ya."
Aku mengelus rambutnya perlahan, kebiasaanku untuk
menunjukkan rasa sayangku padanya.
Lea terlihat tak bernafsu, apalagi aku. Tapi, ia tetap
berusaha memakannya, setidaknya biar aku tenang.
Ia masih memakai setelan kerjanya, kemeja lengan
pendek dan rok selutut. Manis, seperti biasanya.
Mataku tak bisa lepas darinya, merangkumnya dalam
memoriku. Kenangan akan sosok gadis manis yang setahun belakangan
menjungkirbalikkan akal sehatku.
Entah apakah itu berlaku juga untuknya. Hanya saja
yang kutahu, ia sedikit kurus sekarang. Sesuatu yang menusukku dalam,
mengetahui orang yang kucintai menderita akibat hubungan ini.
"Kamu tahu, tadi waktu aku nungguin kamu ada
kejadian lucu."
"Oh ya, emang Mas Vit nungguin aku di mana."
"Di samping pintu masuk laki-laki."
Lea manggut-manggut.
"Terus lucunya di mana?"
"Tadi ada bapak-bapak ngasih aku makanan buat
buka puasa. Pas aku tolak dia bingung, aku bilang kalau aku ga puasa."
"Terus?" Cecar Lea.
"Saya Katolik Pak, saya nganterin pacar saya lagi sholat." Aku tersenyum,
miris.
"He he he." Lea memaksakan diri untuk
senyum.
"Maaf ya Mas, makanannya ga habis. Kenyang tadi
sama makanan di masjid." Kata Lea beralasan. Aku tahu, ia cuma tak
bernafsu.
Aku menarik tangannya ke dalam genggamanku. Kutatap
mata indahnya, berharap ia tahu apa yang kurasa. Ini saatnya,
"Kamu pernah nyesel kita ketemu?"
Lea menggeleng.
"Kalau aku, aku bodoh kalau misal melewatkan
kamu. Jadi, ga pernah sedikitpun aku nyesel."
Kugenggam tangannya semakin erat.
"Kamu marah sama Tuhan, kenapa kita
dipertemukan."
Lea mengangguk, air mulai menggenangi matanya.
Menunggu saatnya terlepas.
"Jangan marah. Tuhan itu baik. Meski tak
berujung, tapi setidaknya aku sempat memiliki kamu." Aku berdeham, menjaga
intonasi suaraku agar tetap tegar.
"You're the
best thing ever happened to me. Aku jatuh cinta sama kecerdasan kamu. Kamu
sama aku itu ibaratnya berada pada panjang gelombang yang sama. Duniaku itu
kamu. Masa depanku itu ya kamu, kalau aku boleh milih....."
Aku berhenti, air mata mulai menetes di pipi Lea.
Ya Tuhan, aku ga sanggup. Haruskah aku melepaskan
setengah jiwaku, apa aku masih bisa hidup.
"Saat aku ngajakin kamu dalam suatu hubungan, aku
ga pernah tahu akan sedalam ini."
"Aku juga Mas. Aku ga tahu akan sejauh ini rasaku
buat kamu." Kata Lea sambil tergugu. Tangan kami masih saling menggenggam.
"Seperti kata kamu, arah kita beda. Sekarang kita
tepat di persimpangan. Saatnya memilih jalan terbaik. Meski aku ga tahu akan
jadi apa ke depannya. Aku pengen kamu bahagia."
Klise, aku juga pengen bahagia Tuhan,
bersamanya...protesku.
"Terima kasih, untuk semua hal baik yang pernah
kita jalani. Aku..aku..." Akhirnya aku pun tak kuat. Aku terkulai kalah,
aku menundukkan wajahku, menghindari tatapannya.
Aku, lelaki, menangis karena cinta. Hal yang tak
pernah aku lakukan.
"Aku...cinta kamu. Banget."
Lea menarik wajahku. Kami sama-sama menangis.
"Aku tahu Mas, pada suatu titik kita akan seperti
ini. Tak bisa menghindar, apalagi menolak. Terima kasih untuk tak memaksakan
hubungan ini. Makasih untuk keberanian Mas menghentikan semuanya di saat ini.
Karena kini ataupun nanti akan sama, sakitnya mungkin jauh lebih hebat nanti."
Lea menarik napas sebelum melanjutkan.
"Tuhan pasti memiliki rencana di balik semua ini.
Just wait and see."
Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya.
"Mungkin ini biasa, tapi...jangan lupain aku
ya." Aku memohon padanya.
Lea tersenyum.
"Mas tahu, hatiku tak lagi utuh. Separuhnya ada
di Mas. Mungkin aku bisa lupa, tapi hatiku akan selalu mengingat sebagian
dirinya yang ada di dirimu."
"Besok tak akan lagi sama tanpamu."
"Waktu...waktu akan memudarkan kenangan kita
perlahan Mas."
Aku melepaskan genggaman tangan kami. Aku berdiri,
menariknya serta.
"Aku boleh....peluk kamu."
Dengan senyum termanisnya, Lea mengangguk dan
menghambur ke arahku.
Kami berpelukan erat, tak peduli pada keadaan sekitar.
Tubuh kami sama-sama terguncang, menyadari ini adalah
pelukan terakhir kami sebagai pasangan. Setelah sama-sama tenang, aku
melepaskan dekapanku darinya.
"Cinta kita tak pernah salah. Sebaliknya akan
salah kalau aku dulu gak jatuh cinta sama kamu. Terima kasih...Cinta."
Bisikku lirih di telinganya.
Ya, cinta tak salah mendatangi kami. Jadi, siapa yang
salah. Tak ada yang salah, mencintai Lea adalah prestasi terhebatku.
Mengenalnya mengajariku apa itu toleransi. Keberagaman, kebersamaan, serta
saling memberi dan menerima. Namun, sejauh apapun manusia berusaha, Tuhan juga yang
menentukan. Jika ini memang jalan terbaik, tak seharusnya aku terus meratap.
Hanya berharap Tuhan segera membukakan rencana-Nya di balik semua ini.
Ku yakin kita akan bahagia
Tanpa harus selalu bersama
Tak perlu disesali
Tak usah
ditangisi
Ku yakin ini jalan terbaik
Walau kita tak lagi berdua
(Jalan terbaik, Seventeen)

hiks....hiks....hiks akhirnya mereka ngk bisa bersatu :'(:'( mbk mey semangat trs ya nulisnya ;-)
BalasHapuskasian banget.... padahal mereka cocok banget bersama. gak bs ngasi solusi pun, biarkan aja dah mereka dengan cinta indah mereka, karena suatu hari nanti mereka akan masih bisa tersenyum karena ingat bahwa mereka pernah jatuh cinta sebegitu dalam.
BalasHapusvery nice story say.... bahasanya enak banget, mengalir dengan lancar, lucu, menggelitik meski udah tau bakal sesek jg akhirnya tp tetep baca. hahaha.... konfliknya sesuatu... hehehehe.... :muwah:
Hiks iya neeee aku akan semakin bersemangat...hikzzzz kok jadi sedih2an gini yaaaaaaaa
BalasHapushuwaaaa,,ketebak ya Mbak Shin kalo endingnya bakal sesek di dada,,,(soalnya pake yg 34 sih,,bisanya kan 36,,#apa sehhhh)
BalasHapusyuppyyy,,,sesuatu yaaa?...hmmm..it's really happen mbak
,,i try to write it,,banyak kan kisah2 kayak gitu,,kalo ada yang jadi ya berarti emang jodohnya,,
*lari ke kamar, ambil tissuee,,huwaaa huwaaaa
Ini yg ngomong mbak ky apa bimo ya
BalasHapusBerasa adabimo dah dimari
Hehehehehe
Ya ampyunnnn mimpi apa semalem
Author2 pujaan mampir kesini
Ngasih komen yang bikin semangat
Nyamuknya ga jadi modarrrrr
Udah pasang anti keplak katanya
End of discussion,,,,MUACH