Dulu, jaman
kecil ada masa di mana Sahabat Pena lagi booming. Setiap anak
berlomba-lomba punya sahabat pena paling banyak. Untuk yang belum tahu, sahabat
pena ialah teman yang kita dapat di dunia maya kalau jaman sekarang. Kenapa
maya? Karena kita ga saling bertemu muka.
Biasanya
kita akan dapat nama-nama teman yang akan kita ajak sahabat pena dari majalah.
Masih inget banget kalau dulu ada surat dengan nama kita nempel di loket depan
sekolah senengnya minta ampun. Kebiasaan bersurat-suratan buatku berlaku sejak
SMP sampai SMA.
Berbeda
dengan teman-teman yang lain, aku tak cukup banyak punya sahabat pena. Jaman SD
Cuma seorang, karena dia harus pindah kota kebiasaan berkirim kabar pun
berlalu. Ketika SMP masih sama, aku juga cuma satu sahabat pena. Kebiasaan
saling mengirim surat terhenti ketika kami SMA, kali ini giliran aku yang pindah
kota.
Masa SMA,
aku bisa dibilang anak yang paling sering dapat surat. Teman-teman lain akan
sering mengomentari, apa enaknya sih surat-suratan. Biasanya hanya kujawab
dengan senyuman. Setiap kali surat datang, ada dua hal yang bisa kudapat. Pertama
cerita-cerita dari sahabatku, kedua, perangko bekas yang kemudian akan kuambil
dan kutempel di album khusus.
Sahabat
penaku jaman SMA merupakan sahabatku sejak SMP, kami menjadi lebih dekat meski
kami berbeda kota. Namanya Nanik, tapi sekarang sahabat baikku itu sudah tenang
menghadap-Nya. Sebuah kecelakaan lalu lintas merenggutnya ketika aku sampai di
masa kuliah.
Sahabat pena
terakhirku hanya Nanik, setelah itu, tak ada. Selain karena jaman sudah berubah
di mana surat sudah menjadi hal yang kurang diminati. Kecepatan teknologi
memungkinkan kita untuk memanfaatkan sms atau langsung aja telepon misal ada
yang ingin dibahas.
Tapi, kini
aku punya sahabat pena lagi.
Seorang
sahabat,
Meski jarak
membentang tapi perhatiannya tak pernah kurang
Saling menguatkan,
saat salah satu dilanda kebimbangan
Kami ibarat
satu jiwa dalam dua tubuh
Ibarat anak
kembar yang terpisah
Saat sakit,
kami akan saling merasa
Pikiran kami
tak bisa dicegah untuk memikirkan hal yang sama
Meminjam
salah satu lagu yang sengaja kuposting untuknya, We Were Destined to Shine.....
Terima kasih
untuk keberadaanmu, untuk eksistensimu, dan untuk kegilaan yang kau bawa,
MUACH....
Dalam hidupku, jarang sekali menyinggung masalah reinkarnasi.
BalasHapusBagi aku dengan keyakinan yang aku anut sekarang, tidak ada seorangpun yang mengajari aku tentang reinkarnasi, baik sekedar mengetahuinya ataupun menyakininya.
Saat aku mulai mengenal sosok wanita muda yang memiliki seorang putra bernama Arrasy, saat itulah kata reinkarnasi terngiang ngiang di kepala. Kami terpisah jauh. Terpisah oleh Laut Jawa. Dipertemukan oleh hobby nulis aku yang tiba-tiba keluar lagi, dan sebuah bakat mengedit seorang Meyke AD.
Reinkarnasi (wikipedia)
Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula"[1]) atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.
Aku dan editor+penulis gila ini, berselisih sepuluh tahun lebih usia - mungkin... tetapi banyak hal persamaan pikiran, tindakan, kesukaan, kebencian, dan firasat yang terjadi.
Ini membuatku goyah, bukan tentang keyakinanku - karena setelah membaca beberapa artikel, aku memiliki pengertian sendiri : kepercayaan tentang reinkarnasi ini memang diyakini kuat oleh beberapa keyakinan, namun tidak berbanding terbalik, artinya orang yang mempercayai reinkarnasi bukan berarti merubah keyakinannya.
Aku yakin, kami pernah hidup bersama-sama di kehidupan yang sudah lalu....Entah sebagai sahabat, ibu anak, suami istri, saudara kembar, majikan pelayan ( cup! ogut yang majikan! )
Bee, begitulah kami saling memanggil, Bee dan Jee. Artinya? dia bego, aku jelek...
Maap frens, biarlah hanya Tuhan, kami dan sopir bajaj yang tahu artinya. Mungkin suatu hari kami menulis biografi kami berdua, mungkin akan dijelasin disana, tapi beli yak....*mulai out of focus...
Sekian, maap mbak mas Vit, komentarnya lebih panjang dari artikelnya.
Salam,
KY