Kamis, 18 Juli 2013

Tq Jee

Dulu, jaman kecil ada masa di mana Sahabat Pena lagi booming. Setiap anak berlomba-lomba punya sahabat pena paling banyak. Untuk yang belum tahu, sahabat pena ialah teman yang kita dapat di dunia maya kalau jaman sekarang. Kenapa maya? Karena kita ga saling bertemu muka. 





Biasanya kita akan dapat nama-nama teman yang akan kita ajak sahabat pena dari majalah. Masih inget banget kalau dulu ada surat dengan nama kita nempel di loket depan sekolah senengnya minta ampun. Kebiasaan bersurat-suratan buatku berlaku sejak SMP sampai SMA. 

Berbeda dengan teman-teman yang lain, aku tak cukup banyak punya sahabat pena. Jaman SD Cuma seorang, karena dia harus pindah kota kebiasaan berkirim kabar pun berlalu. Ketika SMP masih sama, aku juga cuma satu sahabat pena. Kebiasaan saling mengirim surat terhenti ketika kami SMA, kali ini giliran aku yang pindah kota. 

Masa SMA, aku bisa dibilang anak yang paling sering dapat surat. Teman-teman lain akan sering mengomentari, apa enaknya sih surat-suratan. Biasanya hanya kujawab dengan senyuman. Setiap kali surat datang, ada dua hal yang bisa kudapat. Pertama cerita-cerita dari sahabatku, kedua, perangko bekas yang kemudian akan kuambil dan kutempel di album khusus. 

Sahabat penaku jaman SMA merupakan sahabatku sejak SMP, kami menjadi lebih dekat meski kami berbeda kota. Namanya Nanik, tapi sekarang sahabat baikku itu sudah tenang menghadap-Nya. Sebuah kecelakaan lalu lintas merenggutnya ketika aku sampai di masa kuliah.

Sahabat pena terakhirku hanya Nanik, setelah itu, tak ada. Selain karena jaman sudah berubah di mana surat sudah menjadi hal yang kurang diminati. Kecepatan teknologi memungkinkan kita untuk memanfaatkan sms atau langsung aja telepon misal ada yang ingin dibahas.

Tapi, kini aku punya sahabat pena lagi.
Seorang sahabat,
Meski jarak membentang tapi perhatiannya tak pernah kurang
Saling menguatkan, saat salah satu dilanda kebimbangan
Kami ibarat satu jiwa dalam dua tubuh
Ibarat anak kembar yang terpisah
Saat sakit, kami akan saling merasa
Pikiran kami tak bisa dicegah untuk memikirkan hal yang sama
Meminjam salah satu lagu yang sengaja kuposting untuknya, We Were Destined to Shine.....

Terima kasih untuk keberadaanmu, untuk eksistensimu, dan untuk kegilaan yang kau bawa,
MUACH....








1 komentar:

  1. Dalam hidupku, jarang sekali menyinggung masalah reinkarnasi.
    Bagi aku dengan keyakinan yang aku anut sekarang, tidak ada seorangpun yang mengajari aku tentang reinkarnasi, baik sekedar mengetahuinya ataupun menyakininya.

    Saat aku mulai mengenal sosok wanita muda yang memiliki seorang putra bernama Arrasy, saat itulah kata reinkarnasi terngiang ngiang di kepala. Kami terpisah jauh. Terpisah oleh Laut Jawa. Dipertemukan oleh hobby nulis aku yang tiba-tiba keluar lagi, dan sebuah bakat mengedit seorang Meyke AD.

    Reinkarnasi (wikipedia)
    Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula"[1]) atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.

    Aku dan editor+penulis gila ini, berselisih sepuluh tahun lebih usia - mungkin... tetapi banyak hal persamaan pikiran, tindakan, kesukaan, kebencian, dan firasat yang terjadi.

    Ini membuatku goyah, bukan tentang keyakinanku - karena setelah membaca beberapa artikel, aku memiliki pengertian sendiri : kepercayaan tentang reinkarnasi ini memang diyakini kuat oleh beberapa keyakinan, namun tidak berbanding terbalik, artinya orang yang mempercayai reinkarnasi bukan berarti merubah keyakinannya.

    Aku yakin, kami pernah hidup bersama-sama di kehidupan yang sudah lalu....Entah sebagai sahabat, ibu anak, suami istri, saudara kembar, majikan pelayan ( cup! ogut yang majikan! )

    Bee, begitulah kami saling memanggil, Bee dan Jee. Artinya? dia bego, aku jelek...

    Maap frens, biarlah hanya Tuhan, kami dan sopir bajaj yang tahu artinya. Mungkin suatu hari kami menulis biografi kami berdua, mungkin akan dijelasin disana, tapi beli yak....*mulai out of focus...

    Sekian, maap mbak mas Vit, komentarnya lebih panjang dari artikelnya.

    Salam,
    KY

    BalasHapus