"Zizi.....
ada telepon tuh buat kamu." teriakan Mama dari lantai bawah membangunkan
aku dari tidur-tidur ayamku. Dengan malas aku mengangkat tubuhku dari atas
kasur.
"Dari siapa
Ma?"
"Kurang
tahu, suara cowok sih. Tapi kan emang yang nyari kamu cowok semua yah."
jawab Mama sambil terkikik. Mama sedang memegang adonan roti di tangannya.
Kelihatannya sih mau bikin donat, makanan kesukaan anaknya yang cantik ini.
Aku meloncati dua
anak tangga sekaligus. Kusambar telepon yang ditempel di dinding tangga. Aturan
dari ayah, telepon ga
boleh dibuat paralel. Memang jadi ribet sih, apalagi kamarku posisinya di atas.
Cuma siapa yang berani ngebantah aturan dari bos besar. "Biarin aja
telepon cukup satu di sini, jadi yang sering pakai telepon kan jadi ketauan tuh." kata beliau dulu.
Sejak saat itu, sampai sekarang 4 tahun sudah ayah meninggal, aturan itu tetap berjalan. Ahh,,aku jadi
inget ayah deh.
"Halo, sapa
nih?" sapaku.
Lama tak
terdengar suara, tadinya aku pikir udah ditutup. Tapi nadanya sih masih
tersambung. Ah, dasar nih, telepon iseng, batinku.
"Sapa nih,
hoiii, ngomong dong. Tutup juga nih!" bentakku.
"Hahahaha"
"Dion?"
"Hai jelek,
galak banget sih. Ga berubah sama sekali."
Ya ampun, Dion,,
Dion Jelek, CiMonn, alias Ci Monkeyyy, Musuh
bebuyutanku.
"Aku kan
bukan Baja Hitam, mana bisa berubah!" jawabku ketus, padahal aku sedang
berusaha menormalkan debaran jantungku.
"Iyah, iyah,
kamu kan Gaban. Hahahaha"
Eh sialan ni
bocah, masih pinter ngelucu aja, batinku.
"Di mana
sekarang?"
"Di
hatimu."
Ha Ha ... ngelucu
lagi nih dia.
"Serius
tauk"
"Dua
rius"
"Udah ah,
ditutup aja yah."
"Eits,
jangan dong. Masih kangen." sambernya tiba-tiba.
"Kok
beredar lagi, kirain udah nyangkut di mana?" tanyaku sebal. 3 tahun lalu, sejak keluarganya pindah ke kota lain,
Dion menghilang. Tak pernah sekalipun menghubungiku. Sejak saat itu aku
menghapusnya dari hidupku. Meski aku saat itu masih kelas 3 SMP, tapi cukup membekaskan luka di hatiku.
"Nyangkut
di.....eh bukain pintu dong"
Bukain pintu,
emang di mana tuh orang, batinku. Belum sempat aku berpikir lagi, bunyi bel
pintu terdengar.
"Ting
tong."
Dengan segera aku
berlari menuju pintu depan. Aku sempat berhenti sejenak ketika tanganku bersiap
membuka handel pintu. Aku baru sadar tampangku pasti berantakan banget
sekarang.
Kupegang dadaku,
gemuruhnya seolah-olah aku habis berlari ratusan meter. Kutarik kaosku ke
bawah, menyadari aku cuma pakai kaos oblong kegedean dan celana jeans pendek di
atas dengkul. Mau balik lagi ke atas udah ga sempat.
Ya Ampun,,kenapa
juga jadi grogi gini.
"Ting
Tong"
Suara bel
mengembalikanku ke alam sadar. Dengan gemetaran kutarik handel pintu ke arah
dalam, dan aku pun seketika terpaku.
Berdiri di
depanku, sosok cowok, hmm, bukan…bukan, laki-laki
tinggi, dengan rambut dipotong rapi. Kaca mata bertengger di hidungnya,
mengenakan kaos berkerah warna hitam dipadu celana jins hitam. Sosok itu tersenyum padaku, kyaaaaaaaaaa Mamaaaaaaaaaa.
Cowok yang sedari
dulu mengisi mimpi-mimpiku, kini berdiri LAGI di depan pintu rumahku.
Aku membeku,
begitu pun dirinya. Kami terdiam. Tiba-tiba, dia menyapaku.
"Hai Zi,, Long
time no see."
Entah apa yang
ada di otakku, aku menghambur ke depan. Tanpa malu merangsek masuk ke
pelukannya.
"Dionnnnnnnnnnnnnnnnnnn"
teriakku kegirangan.
***
3 Tahun Lalu
Aku memandangi
rumah bercat putih di depanku. Rumah bertingkat dua yang asing buatku dan kini
aku berdiri di depannya. Kubetulkan topiku yang terbiasa kupakai dalam posisi
terbalik. Dengan segera aku turun dari sadel sepeda, setelah memastikan
sepedaku tak akan jatuh aku bergegas mendekati pagar.
“Permisi Pak,”
sapaku pada pak sekuriti.
“Ya Non, cari
siapa ya?”
“Dion-nya ada
Pak?” tanyaku.
“Dion?, Dion yang
mana ya Non?” Pak sekuriti malah balik bertanya padaku.
“Yang punya rumah
ini pak.”
Pak sekuriti
terlihat kebingungan. Tiba-tiba seperti tersadar, dia mendekat ke arahku.
“Oh, mungkin itu
penghuni yang baru pindah ya Non?, Kalau itu bapak kurang paham. Sepertinya sih
pindah, tapi kurang tahu kemana.”
Aku menunduk
lesu. Tak ada lagi petunjuk akan Dion. Setelah di sekolahnya pun aku tak
menemukan jejaknya.
Dion, Monyet
jelek, musuhku, temanku. Aku kenal anak itu karena kami kursus bahasa Inggris
di tempat yang sama, sejak satu tahun lalu. Dia kelas 2 SMA sementara aku
masih kelas 2 SMP. Sejak itu aku dan
dia menjadi dekat. Aku panggil dia Monkey, dia panggil aku Zibra, pelesetan
dari nama panggilanku, Zizi.
Sudah dua minggu
ini dia ga masuk kursus. Tak kurang berapa puluh kali aku menelepon ke rumahnya. Pertama
gak ada jawaban, hingga akhirnya ada yang mengangkat dan bilang dia sudah tidak ada di rumah itu. Percaya, tentu aja
enggak. Berbekal alamat yang dulu pernah dia beri, aku menelusuri komplek rumahnya yang tak terlalu jauh dari
rumahku.
Tak kupedulikan
terik Matahari, kukayuh sepedaku secepat-cepatnya agar segera sampai ke rumahnya.
Ternyata, dia memang sudah pergi.
“Non, Non
kenapa?”
Pak sekuriti
membuka pintu pagar, mendekatiku yang jongkok menahan rasa kesal.
Aku sebal, ya
sebal sekali pada anak itu. Bisa-bisanya dia pergi tanpa pesan. Air mataku pun
menetes.
“Non, jangan nangis.”
Bapak itu terlihat kebingungan menghiburku.
Kuusap air mata
yang mengalir di pipiku dengan punggung tangan. Aku segera bangkit berdiri.
“Makasih ya Pak,
maaf merepotkan. Saya pulang dulu.” Pamitku.
Si Bapak terlihat
ingin menahanku, tapi dia juga bingung harus bagaimana. Kukayuh sepedaku dengan
kencang, sekali lagi aku menoleh. Seakan mengucap selamat tinggal, bukan pada rumah itu, tapi
pada kenangan akan persahabatanku dengannya.
***
“Ma..... ada
Dionnnnnn.” Teriakku kencang.
Dion mengamatiku
dalam. Dia menarikku duduk ke teras. Kami duduk berdampingan di tempat yang
dulu biasa kami duduki. Aku menarik tanganku darinya, merasa malu. Namun, dia
seperti sengaja tak ingin melepaskan tanganku.
Mama lari
tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
“Dion?,,, Dion
siapa Zi?” tanya Mama sambil mengelap tangannya yang basah pada celemek yang
beliau pakai. Sepertinya beliau terburu-buru mencuci tangannya tadi.
Dengan segera aku
menarik tanganku dari pegangan Dion. Aku tak ingin Mama melihatku. Beliau pasti
akan meledekku habis-habisan nanti.
Dion seperti
mengerti. Dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Mama. Dengan sopan
dia meraih tangan Mama dan membawanya ke bibirnya. Seperti dulu, dia selalu menyalami Mama setiap kali datang dan
pulang dari rumah ini.
“Ya
Ampun....Dion...Ini Dion, Dion yang itu....yang dulu suka manjat pohon belimbing di rumah sama Zizi? Dion yang tiba-tiba menghilang,
yang bikin Zizi nangis berhari-hari?”
Wow...wow...Mama,,
stop Ma. Kenapa jadi Mama yang heboh begini sih. Apa pula itu, bilang aku
nangis berhari-hari. Haduhhhhh,, bisa jatuh pasaranku ketauan nangisin Monyet
buluk ini.
“Maaaa....iya ini
Dion yang dulu. Udah ah,”
kataku sebal.
Aku merengut, sementara Dion terlihat menahan senyum.
Aku merengut, sementara Dion terlihat menahan senyum.
“Iya Tante, saya Dion yang itu. Cuma saya ga nyangka bikin
Zizi nangis berhari-hari.”
Dooooh, sialan ni
bocah, pake diungkit lagi.
“Loh bener kok,
Mama sampe bingung dulu. Nangis ga bren...”
Belum selesai
Mama berbicara, aku segera menutup mulutnya. Bisa gawat kalau semua rahasiaku
terbongkar. Aku segera mendorong Mama masuk ke dalam rumah, dan menutup
pintunya ketika kupastikan Mama sudah aman di dalam.
Kutepukkan kedua
tanganku, seolah-olah aku telah membereskan pekerjaan penting. Aku membalikkan
badanku, untuk seketika terpaku.
Dion, duduk di ujung sofa, lagi-lagi menatapku dalam. Aku setengah menyeret kakiku untuk bisa menghampirinya.
Dion, duduk di ujung sofa, lagi-lagi menatapku dalam. Aku setengah menyeret kakiku untuk bisa menghampirinya.
Sialan ni bocah,
bikin hatiku deg-degan aja.
“Jadi, ke mana
aja selama ini?” Aku mendudukkan pantatku di sofa ujung, sengaja menjauhkan
diriku darinya.
Dion masih
mengamatiku, menyedekapkan lengannya. Tatapannya menusuk, membuatku salah
tingkah.
“Aku mau minta
maaf Zi. Aku dulu pergi ga pake pamitan sama kamu.” Tiba-tiba Dion mengubah
arah pandangannya, tangannya diletakkan di paha. Tatapannya
lurus ke arah meja. Gantian aku memandangnya lekat.
Aku menelan ludah
dengan susah payah, menanti kenyataan apa yang akan dia sampaikan padaku.
Menebak-nebak, apa aku bisa menerima penjelasannya.
“Mamaku
meninggal. Papa depresi, akhirnya Nenek memaksa kami pindah kota. Semuanya
begitu tiba-tiba Zi.” Suara Dion melemah, matanya menatap ke luar, ke
pekarangan rumah. Seperti menerawang balik ke masa lalu.
Aku merasa
trenyuh, ikut tertarik ke masa lalu. Tapi, tetap saja rasa kesalku padanya ada.
Daripada ga tahan, terpaksa aku tanyakan juga. Penasaran juga ga bagus kan, bisa jadi bisul nantinya kalau ditahan-tahan.
Akhirnya
kutanyakan juga hal yang mengganjal di pikiranku selama ini.
“Masa sampe ga
sempet hubungin aku? Aku segitu ga pentingnya yah buat kamu.” Kataku tajam,
mataku sama sepertinya, kuarahkan keluar. Aku tak berani menatap matanya, takut
menemukan jawaban yang nantinya menyakitiku.
“Keadaan begitu
kacau Zi. Aku harus adaptasi lagi, selain itu aku juga harus menenangkan dua
orang. Papa dan Dira, adikku. Kamu ingat?”
Dira, ya adik
Dion yang dulu sering ikut main ke rumah ini. Apa kabarnya
sekarang.
“Cuma aku yang
dipaksa menjadi kuat. Mama pergi begitu tiba-tiba, karena kecelakaan. Parahnya,
Papa ngerasa kecelakaan itu karena kesalahannya.”
Aku menghela
napas, menanti kelanjutan ceritanya.
“Mobil yang
dikendarai Mama menabrak pohon. Papa ngerasa itu salahnya
karena malem sebelumnya Mama pernah tanya mobil kenapa ga enak pas dibawa
jalan. Tapi Papa ga sempet merhatiin pertanyaan Mama".
Aku masih mendengarkan, serius.
"Abis itu semua berubah. Aku ga inget nomor
telepon kamu. Hapeku yang ada nomor kamu entah di mana, hilang waktu kami
pindahan. Aku inget gara-gara nemuin buku diary Dira yang ditumpuk rapi di
kardus sama Nenek."
Oowww, jadi kalo ga ketemu tuh buku, ga bakal dong dia
nongol di depanku sekarang, batinku. Sabar sih sabar, tapi 3 tahun kan lama
Tuhan.
"Jadi, gimana? Aku dimaafin kan?" Tanya Dion
tiba-tiba.
Dia langsung berbalik, kali ini sambil meraih
jemariku. Aku,,,ya makin salah tingkah lah.
Maafin engga...maafin engga...maafin engga... Aku
seperti menghitung kancing. Kalau Tuhan akhirnya mempertemukan kami lagi,
berarti ada rencana di baliknya. Masa iya udah dikasih kesempatan mau disia-siain.
Aku balas menarik jemarinya. Meski sambil malu,
kurekatkan jemari kami. Kuberi dia senyuman termanisku, agar dia tahu....
Apapun yang terlewat tak lagi penting, yang aku ingin sekarang adalah masa
depan dengannya.
***
"Dari mana?"
Pertanyaan Papa menyambutku yang sedang sumringah
sepulang dari rumah Zizi. Gadis yang selama 3 tahun ini tak pernah lepas dari
hatiku. Bodohnya aku, baru sekarang berani menampakkan diri padanya.
Aku takut dia marah padaku, ujungnya ga mau ketemu.
Makanya, meski aku sudah menemukan nomor teleponnya sejak 6 bulan lalu, aku
baru berani sekarang. Untungnya dia masih mau menerimaku.
Zizi, sekarang tumbuh menjadi gadis cantik. Tingginya
semampai, rambut hitamnya panjang tergerai. Meski mengenakan kaos oblong
kedodoran, tapi pandanganku tak bisa lepas darinya.
"Dion, Papa kan tanya sama kamu?" Papa
menurunkan koran yang tadi dibacanya.
Aku semakin tersenyum lebar. Kumainkan kunci mobilku,
kuputar-putar di telunjukku.
"Lagi bahagia nih kayaknya"
Tiba-tiba Dira ikutan berkomentar.
Emang keliat jelas banget ya kalau aku lagi senang.
Apa tulisan bahagia terpampang jelas di keningku...
"Tadi, abis ketemu temen lama Pa. Trus...gitu
deh" jawabku mengambang. Sengaja begitu, biar ga tambah ditanyain
macem-macem.
Dira menyedekapkan lengannya, mengamatiku. Dia
bergerak ke depan, meraih, dan memelukku erat.
"Wah...selamat ya Kak. Akhirnya berani juga. Ga
kayak selama ini, jadi pemuja rahasia aja."
Aku tersenyum miris mengingat kelakuanku 1 bulan
belakangan. Sejak pindah lagi ke kota ini, aku hanya bisa mengamati Zizi dari
jauh.
Seperti orang bodoh, berkali-kali melewati kompleks
rumahnya, berharap dia keluar. Ketika saat itu tiba, kakiku terasa kaku. Aku
cuma bisa mengamatinya yang berlalu dari dalam mobilku.
Gadis itu ga banyak berubah, tetap aja tomboi persis
ketika dia kelas 2 SMP, pertama aku mengenalnya. 3 tahun berlalu sejak
kepindahanku, sekarang Zizi sudah kuliah tahun pertama di Universitas Negeri
ternama di kota ini. Aku mengikutinya ke kampus dan mencari tahu tentangnya.
Benar dugaanku, jurusan yang isinya cowok semua yang
dia pilih, yap, Teknik Mesin. Sementara aku, yang jelas laki-laki malah memilih
jurusan Manajemen Bisnis. Semua karena Papa ingin aku meneruskan bisnisnya,
yang sudah mulai kujalani setahun belakangan. Aku sengaja mengambil kuliah
sambil bekerja agar bisa langsung terjun bekerja karena tenagaku sudah sangat
ditunggu oleh Papa. Itupun kupilih yang masa kuliahnya singkat.
Papa yang sudah mulai sembuh dari kenangannya akan
Mama memutuskan kembali ke kota ini. Beliau mengambil alih bisnisnya dulu yang
selama ini dikelola Om Deni, adik Mama selama kami pindah. Bisnis itu juga yang
akhirnya diserahkan padaku.
"Kok malah peluk-pelukan. Oh ya, Papa ada urusan
sore ini. Kalian nanti makan malem aja berdua. Ga usah nungguin Papa."
Kata Papa sambil melewati kami. Tak lupa mengelus rambut Dira, sembari lewat.
Sepeninggal Papa, Dira menarikku ke kursi.
"Eh, Kak. Tau ga sih. Papa kan akhir-akhir ini
misterius. Tiap malem minggu,,beuhhhh rapi jali. Wanginya ke mana-mana dah.
Punya pacar apa yak?"
Aku menoyor jidat Dira, tuh anak kalau ngomong suka
seenak jidat. Tapi aku emang ga pernah merhatiin Papa sih, kerjaan di kantor
cukup menyita waktuku. Belum lagi urusanku mengamati Zizi diam-diam.
"Tapi kan bagus juga Dek, kita punya Mama baru.
Hehehe" jawabku sambil terkekeh.
"Ga papa sih Kak. Asal bisa bikin Papa senyum
terus kayak sekarang."
Aku mengangguk, dalam hatiku mengiyakan. Apa pun asal
itu bisa bikin Papa dan Adikku senang, bagaimana pun caranya akan kuusahakan.
***
Seorang wanita setengah baya terlihat berbicara dengan
pelayan yang menyambutnya di depan pintu. Tak lama kemudian, pelayan itu
mengantarnya pada seorang lelaki tampan berusia menjelang setengah abad yang
sedang gelisah menunggu.
Namun, senyumnya segera terkembang begitu matanya
melihat bahwa wanita yang sedari tadi ditunggunya telah tiba.
"Lama Mas? Maaf ya, tadi aku ada kerjaan di
rumah. Baru bisa aku tinggalin." Sapa sang wanita.
"Ga papa, Nit. Aku ngerti kok. Harusnya aku yang
jemput kamu, ini ngajak ketemuan melulu di luar."
Sang pria kembali ke kursinya setelah menarikkan
kursinya untuk sang wanita, yang ternyata bernama Nita. Mereka duduk
berhadap-hadapan kini.
"Jangan dulu Mas, aku belum enak sama yang di
rumah."
"Malu...? Malu karena setua kita pacaran seperti
anak remaja ya?" Tanyanya sambil terkekeh.
Sementara Nita menunduk malu,
"Aku sebenernya udah ga sabar ngenalin kamu sama
anak-anakku. Mereka pasti senang karena Papanya punya pacar."
Sang wanita makin memerah pipinya. Dia makin
menundukkan wajahnya. Untung saja pelayan yang datang memberinya sedikit waktu
untuk menenangkan hatinya yang berdebar.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku mau minum aja Mas. Mas sudah makan?"
"Belum, aku sengaja mau makan bareng kamu."
Jawab sang lelaki sambil membolak-balik buku menu.
"Nasi goreng ada?" Tanyanya ke pelayan.
"Ada lagi pak?" Jawab pelayan setelah
mengangguk dan mencatat di kertas.
"Kamu beneran ga mau makan?"
Nita mengangguk, yakin.
"Hmmmm, satu air mineral sama ice tea, gulanya
sedikit aja."
Alis sang wanita terangkat. Sementara sang pelayan
sibuk mencatat pesanan dan segera berlalu dari keduanya.
"Sekali-kali minum es. Bukannya itu minuman
kesukaanmu dari dulu. Apa jangan-jangan udah ga kuat sekarang karena udah
tua?"
"Aku sudah keliat tua banget ya Mas?" Dia
malah balik bertanya.
"Ga tuh. Kamu masih secantik dulu, zaman kita
SMA. Zaman kamu masih jadi idola, tapi takluk sama aku." Jawabnya.
"Tapi tadi katanya aku udah tua." Nita
merengut.
Wajahnya terlihat manis, meski umurnya tak muda lagi.
Namun, kecantikannya di masa muda masih jelas terpancar.
"Iyah..iyah..Aku minta maaf. Oh ya, terima kasih
ya Nit."
"Untuk apa?" Tanyanya heran.
"Aku ga nyangka Tuhan mempertemukan kita lagi di
saat kita sama-sama sudah sendiri."
"Lalu?" Tanyanya lagi.
"Kamu mau menjalin hubungan lagi sama aku, meski
aku sekarang banyak berubah."
"Tapi hatimu tetap sama kan? Tulus dan apa
adanya."
Suasana mendadak sunyi, mata menatap mata. Jari saling
menggenggam.
"Aku mencintaimu Nit, " kata sang lelaki
mantap.
"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa Mas. Untukku
sendiri aku yakin, kamu adalah lelaki baik. Tapi, kepergian Mas Handoko masih
terasa sebentar buatku. Aku ga yakin apa keluargaku bisa menerima hubungan kita
nantinya."
"Aku rela menunggu. Berapa lama pun itu."
Balas sang lelaki lebih mantap.
"Oya Mas, dulu kan cinta kita cuma cinta anak
SMA, bisa dibilang Cinta Monyet. Kenapa Mas masih saja ingat?"
Sang lelaki tertawa demi mendengar ungkapan cinta
monyet.
"Kenapa ya, kan kamu dulu yang mutusin aku.
Makanya sekarang aku harus dapetin kamu lagi. Kita ubah Cinta Monyet itu
menjadi Cinta Gorila."
Mereka tertawa berbarengan tepat ketika pelayan datang
mengantarkan pesanan.
Sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis membawa
mereka ke suasana berpuluh-puluh tahun lalu. Saat mereka masih berseragam
abu-abu. Saat dunia terasa begitu mudah untuk sepasang sejoli. Saat cinta masih
menaungi mereka. Namun, tak ada yang pernah menduga, takdir membawa cinta itu
kembali kini.
"Oh ya, jadi siapa nama calon putriku?"
Tanya sang lelaki, yang dijawab dengan senyuman malu-malu sang wanita.
"Fazia, Mas. Fazia Handoko."
***
Hubunganku dengan
Dion semakin dekat. Sejak mengambil alih bisnis Papanya, Dion praktis menetap
di kota ini lagi. Horeee...artinya aku ga akan pisah lagi sama dia.
Dulu, saat aku
masih pakai seragam putih biru, aku menaruh hati padanya. Siapa sangka, takdir
baru menyatukan kami sekarang. Rupanya Dion juga naksir aku, untungnya... Jadi,
cintaku kan ga bertepuk sebelah tangan. Aishhhhh...bisa malu aku kalau ternyata
aku yang ngebet.
Meski baru
bertemu lagi, ikatan kami terasa kuat. Tak ada yang namanya jaga image,
Dion masih sama seperti Dion yang kukenal dulu. Entah dia mikir apa sebaliknya
tentang aku.
"Maaaaaaa....
Zizi, boleh ga malem ini jalan keluar sama Dion. Nanti sih Dion juga bakal
minta izin sendiri ke Mama, kayak biasanya gituuuu. Cuma kan...kan...kalo
bolehhh Zizi bisa siap-siap dari sekarang." Aku merajuk sambil memeluk Mama yang sedang memasukkan puding cokelat ke lemari
es.
"Kalian
pacaran ga sih sebenernya?"
"Hmmmmm...."
Jawabku, sengaja menggoda Mama.
"Kasih tau
Dion, awas aja kalau sampai bikin anak Mama nangis kayak dulu." Kata Mama
berlagak galak.
Aku
terbahak-bahak, bukannya serem malah lucu. Mama kan ga pernah sok galak gitu,
Mamaku sayang yang lembut dan manis.
"Siap
Bos!" Aku menjawab Mama seperti seorang anak buah yang mengerti perintah
komandannya.
Aku segera
bersiap, Dion bilang mau datang jam 7. Kami cuma akan nonton film yang jadi Box
Office saat ini. Film-film action yang sama-sama kami sukai. Kalau dulu
superhero zaman kanak-kanak, yah sekarang peningkatan lah filmnya, kata Dion
waktu itu.
Pacaran, hmmmm,
aku terpikir pertanyaan Mama tadi. Aku dan Dion bisa dibilang pacaran, tapi ga
juga. Dion kan belum pernah nembak aku, meski kami udah jalan bareng setengah
tahun belakangan.
Tiba-tiba bunyi bel
menyadarkan aku untuk bergegas, tanda Dion sudah datang. Setelah menyambar cardigan warna biru muda, aku
segera meluncur menyambut Dion.
***
Sebuah ingatan
melintas sekilas ketika aku melihat anak itu. Tatapan mata dan raut mukanya
mengingatkan aku akan seseorang. Tapi entah benar entah tidak.
Zizi dan Dion
baru saja pergi. Aku mengantar mereka sampai ke depan pintu. Aku segera
melangkah masuk, aku sendiri juga ada janji malam ini.
Angga, seorang
teman lama akan berkunjung. Tadi aku meneleponnya dan membatalkan janji
pertemuan kami di luar. Kebetulan tadi aku masak sop buntut, makanan yang aku
tahu merupakan kegemarannya, selain nasi goreng.
Baru sebentar
saja Zizi pergi, tapi rumah sudah terasa sepi. Aku tak bisa membayangkan
bagaimana nanti kalau dia sudah menikah. Untungnya Mbok Rum pernah berjanji, di saat almarhum Ayah Zizi meninggal. Dia akan terus tinggal bersamaku,
menunaikan janjinya pada almarhum.
"Ting
tong"
Belum juga sampai
dapur, bel pintu berbunyi. Aku menebak-nebak. Apa Zizi dan Dion tertinggal
sesuatu. Dengan setengah berlari aku menuju pintu.
Untuk sesaat aku
tertegun, Angga, berdiri di depanku. Meski tak lagi muda, ia terlihat tampan
dalam balutan kemeja lengan pendek dan celana kain berwarna hitam.
Ia tersenyum,
melihatku yang sedang mengamatinya.
"Ayo masuk.
Coba tadi agak cepat datangnya, bisa ketemu putriku dulu."
"Oh ya,
memang sedang ke mana?"
"Baru saja keluar sama temannya." Jawabku
sambil menunjuk sofa agar Angga duduk ke sana.
"Rumahmu terlihat nyaman." Kata Angga
membuka obrolan setelah memilih duduk di sofa panjang.
Aku memilih duduk di sofa single. Angga
terlihat mengamati setiap foto yang terpasang di figura. Aku sengaja memasang
banyak foto di ruang tamu. Perintah almarhum Ayah Zizi, agar setiap tamu
melihat keceriaan keluarga kami, tapi kalau kata Zizi itu sih namanya Narsis.
Angga yang kukenal tak jauh berubah. Hanya saja
sekarang dia tampak lebih matang. Pipiku bersemu merah menanggapi candanya,
membawaku ke kenangan masa lalu kami. Ya, Angga adalah mantan pacarku. Untung
Zizi sedang keluar, kalau dia tahu aku pasti diledek habis-habisan.
Aku melirik jam di meja makan. Angga bersedia mencoba
masakanku, tak tahunya dia malah memuji habis-habisan.
"Kapan-kapan undang aku lagi ya. Dijamin bobotku
akan naik kalau sering-sering makan masakanmu." Kata Angga sambil
berkelakar.
Sementara aku tersenyum menanggapinya. Sudah jam 9,
waktunya Angga pulang. Loh, aku jadi teringat zaman kami sekolah dulu. Angga
selalu tepat waktu setiap kali mengapeliku. Aku selalu meledeknya dengan
panggilan cowok 79, ngapel jam 7 pulang jam 9.
"Aku rasa saatnya aku pamit. Sudah jam 9."
Angga berpamitan padaku sambil menuju ruang tamu.
"Seperti zaman dulu, SMP, setelah makan
pamit" godaku.
Angga tertawa terbahak-bahak. Tawanya tak berhenti
hingga aku mengantarkannya ke depan pintu mobilnya.
"Terima kasih untuk malam ini. Nanti gantian aku
yang mengundangmu ke rumahku. Oh ya, jangan lupa mimpikan aku ya" bisiknya
sambil masuk ke mobil, meninggalkanku yang termangu terbawa ingatan masa lalu.
Deru mobilnya masih terdengar ketika sebuah mobil
beberapa saat kemudian masuk ke halaman rumah. Lagi-lagi Angga belum berjodoh,
baru saja dia pergi, Zizi pulang.
Seperti seorang gentleman, Dion memperlakukan
Zizi bak putri. Setelah mematikan mobilnya, Dion segera mengitari bangku
penumpang dan menarik tangan Zizi untuk turun.
Aku menyaksikan tingkah polah keduanya dengan
tersenyum. Tiada yang lebih membahagiakan menyaksikan anak kita tertawa
bahagia. Dion terlihat sangat mencintai Zizi. Tawanya begitu lepas. Senyum di
wajah Dion tiba-tiba menyentakkan kesadaranku. Aku tahu siapa pemilik senyum
itu. Ya Tuhan, seketika aku menutup mulutku.
***
Hubunganku dan Zizi semakin serius. Meski belum lama
hubungan ini kami jalani, tapi aku sudah memantapkan niatku untuk menyatakan
perasaanku kepada Zizi.
Aku tak ingin setengah-setengah. Aku ingin melamarnya
menjadi istriku, meski dia masih kuliah. Aku tak ingin menunggu, kuliah kan
juga bisa dilanjutkan setelah menikah, begitu pikirku. Maka itu aku harus
segera minta izin dulu ke Papa.
"Pa, aku mau ngelamar cewek boleh ya?"
Tanyaku pagi tadi ketika kami sarapan bersama.
"Hmmmmm....."
"Pa..aku kan udah besar."
"Hmmmmmm....boleh, tapi nanti ya. Ga boleh
ngelangkahin orang tua." Jawab Papa sambil tersenyum simpul.
Dira yang paham seketika berteriak.
"Kak...papa mau nikah lagi!!! Yeayyyyyyy..."
Teriak Dira kegirangan.
"Tenang..tenang...nanti Papa lamar dulu calon
Mama kalian. Kalau udah itu baru giliran kamu Dion."
Aku dan Dira saling memandang, raut muka kami
menunjukkan rasa kaget, tapi gembira secara bersamaan.
Dira menyebrangi meja, melangkah menuju kursi yang
diduduki Papa.
"Papa serius?, Kakak serius juga?" Tanya
Dira sambil memeluk leher Papa.
Kami mengangguk bersamaan. Dira makin tertawa melihat
tingkahku dan Papa. Tak lama dia gantian menghampiriku mengucapkan selamat.
Izin dari papa sudah kudapat, meski aku harus
menunggu. Tak apalah, aku juga sudah cukup lama bersabar menunggu hingga aku
kembali pada Zizi. Menunggu sebentar lagi tak jadi masalah buatku.
Aku pun melanjutkan makanku dengan lahap pagi ini.
***
"Nit, ada yang mau aku bicarakan denganmu"
kataku di telepon 2 jam yang lalu.
"Aku juga Mas, kapan kita bisa bertemu."
Jawab Nita di ujung telepon.
"Siang ini, aku jemput kamu ya?"
"Jangan Mas, kita bertemu di tempat biasa
saja." Nita menjawab dengan segera.
Aku memaklumi Nita. Aku mengingatkan diriku agar
bersabar, tokh sebentar lagi aku akan memilikinya secara resmi.
Kaos berkerah sengaja kupilih, Nita suka sekali
melihatku memakai kaos berkerah warna biru. Dulu, katanya aku terlihat dewasa.
Rambutku sudah kurapikan kemarin. Aku mematut diriku di depan cermin. Segera
kusambar cincin emas putih yang sengaja kubeli beberapa waktu lalu, sebelum aku
pindah ke kota ini lagi.
Hubunganku dan Nita sudah terjalin sejak aku masih di
kota lain. Dia yang membuatku ingin kembali ke kota ini. Kota yang penuh
kenangan antara aku dan Nindi.
Kami sebelumnya hanya berkomunikasi lewat telepon. Aku
bertemu dengannya lagi ketika kami sama-sama menghadiri reuni akbar SMA.
Satu tahun berlalu, Nita membantuku menerima kenyataan
bahwa aku tak bisa terus-terusan terpuruk dalam perasaan bersalah. Selama ini
aku terus dihantui perasaan bersalah. Yang tidak anak-anakku tahu adalah, malam
sebelum Nindi kecelakaan kami baru saja bertengkar hebat. Nindi menuntut cerai
dariku, karena menurutnya aku tak pernah benar-benar mencintainya. Aku menikahi
Nindi dulu setelah aku diputuskan Nita. Meski kami menikah dan memiliki dua
orang anak, tetap saja Nindi merasa aku tak pernah mencintainya. Padahal aku
sudah dengan segala cara berusaha menjadi seorang Papa dan suami yang baik.
Karena itu, ketika Tuhan mempertemukan aku dan Nita
kembali, aku kembali yakin. Jika dulu dia meninggalkanku, kini aku tak ingin
lagi kehilangannya.
Dira memandangiku lekat, dia terlihat senang dengan perubahanku.
Tadi dia memberi masukan agar aku penuh percaya diri nanti ketika bertemu calon
mamanya.
"Cayyo Papa!" Teriak Dira.
Belakangan aku baru tahu bahwa itu artinya
bersemangat. Semangat, pastinya. Maka dengan penuh tekad aku segera menemui
pujaan hatiku.
Begitu sampai di restoran, aku tak menyangka Nita
sudah ada di sana. Dia tersenyum manis menatapku, memakai baju putih, rambutnya
ia biarkan terurai, bergelombang.
Matanya yang bulat yang dulu membuatku tertawan sedang
mengamatiku. Aku segera menghampirinya. Dia memilih duduk di dekat taman
dinding yang mengalirkan air. Suara gemericik air terasa begitu indah di
telingaku yang sedang kasmaran ini.
"Kok kamu duluan?" Tanyaku begitu duduk di
depannya.
"Memang ada larangan Mas?" Nita balas
bertanya.
"Sudah pesan?"
Nita menggelengkan kepalanya. Setelah berhadapan aku
baru menyadari, dia terlihat gelisah.
"Ada apa Nit?"
"Ada yang mau aku tanyakan Mas"
Pertanyaan?, ah sebelum itu mending aku duluan yang
bertanya.
"Gimana kalau aku dulu?" Balasku.
Nita terlihat tidak setuju, tapi mungkin karena
melihat semangatku maka ia mengangguk.
Kukeluarkan cincin dari saku celanaku, sengaja aku
tidak menempatkannya dalam kotak perhiasan. Sedari tadi aku menggenggamnya,
seolah aku memegang hatinya.
"Aku ingin melamarmu. Ini cincinnya, kurang
romantis yah. Tapi beginilah aku. Anita, kekasih cinta monyetku, pacar
terbaikku, maukah kamu menjadi belahan jiwaku. Melanjutkan cinta masa lalu
kita, mengarungi sisa hidupmu berdua denganku" tanyaku sambil menatap
matanya.
Aku sebenarnya gugup, tak menyangka. Berapa puluh
tahun aku melewati hidupku tanpanya, dan kini aku memintanya menghabiskan sisa
umurnya denganku. Kata-kata itu dulu pernah ada di otakku ketika kami masih
SMA, aku akan melamarnya suatu hari nanti ketika kami sudah bekerja dengan
mapan. Namun, siapa sangka aku akan mengucapkannya kini, berpuluh-puluh tahun
kemudian.
Nita terlihat terkejut. Matanya berkaca-kaca. Sejurus
kemudian, ia menatapku lekat.
"Boleh aku tahu nama anakmu, Mas?"
Kok malah jadi tanya nama anak, harusnya jawab dulu
lamaranku. Nanti mau tanya apapun juga akan kujawab.
Aku mengernyit, tapi tak urung kujawab juga melihat
tatapannya yang menusukku.
"Aku pernah cerita kan, anakku yang kecil
perempuan. Namanya Aldira, sementara yang sulung laki-laki, namanya
Aldion."
Tiba-tiba Nita terlihat menarik napas. Seperti ada
beban di pundaknya.
"Boleh aku lihat fotonya, Mas?"
Pertanyaan aneh lagi. Aku jadi heran dengannya. Kalau
saja bukan di saat aku melamarnya, aku akan dengan senang hati menjawabnya. Apa
dia tidak tahu aku saat ini sedang berdebar menunggu jawabannya.
Dengan cepat kukeluarkan ponselku, setelah menyala
kuangsurkan padanya. Wallpaperku adalah gambar foto kedua anakku.
Nita mengamatinya dengan seksama. Keherananku semakin
bertambah saat ia menunduk dan tiba-tiba menangis tersedu.
***
Kecurigaanku terbukti, setelah kuamati dengan seksama
foto di layar ponsel Angga. Anak itu memang Dion, Dion yang sama, Dion
laki-laki yang dicintai Zizi. Tampilan fisik Dion mengingatkanku akan diri
Angga ketika muda. Keduanya begitu mirip. Dulu ketika pertama mengenal anak
itu, kemiripannya belum tampak. Mungkin karena ia masih kecil. Tapi kini, jika
mengamati dengan seksama, akan sangat jelas terlihat.
Malam itu aku tak menyangka jika Angga akan melamarku.
Aku berniat menanyakannya langsung padanya mengenai kemiripannya dengan Dion.
Jika memang benar yang aku pikirkan, maka aku akan mengakhiri hubungan kami.
Siapa sangka, malam itu dia melamarku. Aku menangis di
depannya. Aku bertanya pada Tuhan, kenapa kami harus dipertemukan kembali dalam
keadaan seperti ini.
Angga, bukanlah sekedar cinta monyet. Dia adalah cinta
pertamaku. Selepas SMA, kami melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Karena
kesalahpahaman, kami putus hubungan. Aku pikir dia akan tetap mencariku.
Nyatanya dia tak pernah menghubungiku, meski aku sabar menunggunya. Sepertinya
sifatku yang penyabar ini menurun pada Zizi yang setia menunggu Dion.
Pada akhirnya aku menikah dengan Ayah Zizi, pria yang
dijodohkan oleh orang tuaku. Aku pun mulai menerima kehadirannya dan
melanjutkan hidupku. Sementara Angga, tersimpan di sudut hati. Kukubur rapi,
tapi tak pernah pergi.
Setelah aku bertemu dengannya, perasaanku padanya
tumbuh kembali. Aku tahu,
sungguh tak pantas untuk wanita seumurku berpikir mengenai cinta. Namun, aku
tak kuasa menolak. Apalagi setelah aku tahu alasannya. Ternyata dia pikir aku
yang dulu meninggalkannya. Sejak itu kami seperti pasangan kekasih yang baru
saja menjalin hubungan kembali, meski kami tinggal berjauhan.
Tapi setelah kenyataan ini terungkap, aku tak bisa
lagi.
Aku masih ingat kemarahannya di malam itu.
"Aku ga peduli Nit. Aku berhak bahagia."
"Tapi Mas, mereka anak-anak kita. Mereka sangat
bahagia dengan hubungan yang mereka jalani."
"Mereka masih muda. Bisa saja cinta mereka hanya
sekedar cinta-cintaan. Belum serius seperti kita."
"Mas!" Aku membentaknya.
"Bukannya cinta Mas ke aku juga bermula ketika
kita belum dewasa." Tanyaku.
Angga terlihat menunduk.
"Maafkan aku Nit, hanya saja aku bingung. Aku
ingin hidup bahagia bersamamu. Aku...aku...mereka bisa mengalah."
Aku terhempas kaget dengan kata-katanya. Mengalah....
"Aku lebih memilih kebahagiaan mereka Mas."
Angga menatapku tajam.
"Tidak denganku. Aku mencintaimu, aku ingin
bahagia di sisa umurku. Kumohon mengerti aku, Nit."
"Tapi Mas.."
Angga memotong ucapanku.
"Cukup. Aku akan bicara dengan Dion. Kupastikan
ia akan mengalah. Aku akan menikahimu." Katanya sebelum berlalu
meninggalkanku.
Aku terlalu kaget, hingga tak mencegahnya pergi. Sejak
malam itu hingga kini, aku tak bisa menghubunginya.
Teleponku tak pernah diangkatnya, smsku pun tak
berbalas.
Aku takut dengan rencananya. Aku tak bisa membiarkan
putriku menangis, terlebih karena aku. Beberapa kali aku bertanya pada Zizi
mengenai hubungannya dengan Dion, tapi dia terlihat biasa saja dan bahagia.
Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimana kalau Angga
benar-benar melaksanakan niatnya.
Sejak pagi aku gelisah, Zizi bilang Dion akan datang
hari ini dengan papanya. Katanya ada urusan penting yang akan dibahas.
Aku mondar-mandir di ruang tamu, menunggu. Kata Zizi
mereka akan datang pukul 3 sore. Jarum jam terasa begitu lambat berjalan.
"Ma...kok malah Mama yang gelisah. Harusnya kan
Zizi. Mau ngapain coba Dion bawa Papanya ke rumah. Zizi kan grogi Ma."
Aku menghampiri Zizi yang merasakan keteganganku. Aku
mendekatinya, memberinya kekuatan. Padahal aku sendiri yang perlu diberi
kekuatan.
Suara bel pintu menyentakkan kami. Refleks kami
menoleh ke jam yang menunjukkan tepat pukul 3.
Zizi dengan segera membukakan pintu. Berdiri di depan
pintu, Dion dan Angga. Dua generasi yang terlihat begitu mirip. Aku membeku
ketika melihat pancaran di mata Angga. Dia terlihat begitu marah dan keras.
Dengan sopan Zizi menyalami dan mencium tangannya. Aku
membeku di samping sofa. Zizi menyenggolku hingga aku tersadar dan duduk di
sampingnya.
Aku berusaha menatap mata Angga. Kucoba mengirimkan
permintaan untuk menghentikan niatnya. Aku tak ingin melukai anak-anak kami.
Angga hanya sekali menatapku, tapi tatapannya semakin mengeras.
Aku tahu, aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Aku pun
bersiap ketika aku mendengar Angga akhirnya membuka suara.
Bagaikan terdakwa hukuman mati yang menunggu eksekusi,
aku hanya sanggup menunduk.
"Kedatangan saya ke sini adalah ....."
Tak kudengar lagi perkataan Angga, aku terlalu takut.
"Untuk melamar Fazia, putri Ibu."
Seketika aku mendongak. Mataku bersitatap dengan
matanya. Mata yang terlihat terluka. Setelah mencerna kata-katanya, aku
mengunci matanya. Tanpa kata, kukirimkan ucapan terima kasihku atas
pengertiannya.
"Perkenalkan, saya Papanya Dion. Angga, Anggara
Wibisono."
Aku menyambut uluran tangannya dan menggenggamnya erat.
"Saya Mamanya Fazia. Anita, Anita Wulandari."
***
Cinta sejati tak pernah pergi
Terpatri di dalam hati
Meski tak termiliki
Setelah posting perdana di blog
myowndrama.blogspot.com, akhirnya nongol juga deh dimari. Hehehehe
Makasih sebuanyaaak-banyaknya buat Mbak Shin atas
kerelaannya dipostingin cermin ini.
Cinta sejati tak pernah pergi
BalasHapusTerpatri di dalam hati
Meski tak termiliki
:(