Rabu, 19 Juni 2013

CiMon


"Zizi..... ada telepon tuh buat kamu." teriakan Mama dari lantai bawah membangunkan aku dari tidur-tidur ayamku. Dengan malas aku mengangkat tubuhku dari atas kasur. 
"Dari siapa Ma?"
"Kurang tahu, suara cowok sih. Tapi kan emang yang nyari kamu cowok semua yah." jawab Mama sambil terkikik. Mama sedang memegang adonan roti di tangannya. Kelihatannya sih mau bikin donat, makanan kesukaan anaknya yang cantik ini.
Aku meloncati dua anak tangga sekaligus. Kusambar telepon yang ditempel di dinding tangga. Aturan dari ayah, telepon ga boleh dibuat paralel. Memang jadi ribet sih, apalagi kamarku posisinya di atas. Cuma siapa yang berani ngebantah aturan dari bos besar. "Biarin aja telepon cukup satu di sini, jadi yang sering pakai telepon kan jadi ketauan tuh." kata beliau dulu. Sejak saat itu, sampai sekarang 4 tahun sudah ayah meninggal, aturan itu tetap berjalan. Ahh,,aku jadi inget ayah deh.
"Halo, sapa nih?" sapaku.
Lama tak terdengar suara, tadinya aku pikir udah ditutup. Tapi nadanya sih masih tersambung. Ah, dasar nih, telepon iseng, batinku.
"Sapa nih, hoiii, ngomong dong. Tutup juga nih!" bentakku.
"Hahahaha" 
Suara cowok, tawanya terdengar familiar di gendang telingaku. Hah...masa iyah, tapi bisa aja kan?

kesadaran selalu datang ter...lambat



2 hari yang lalu ga sengaja ke Gramedia, niatnya sih beli printer buat kantor. Apa daya, mata malah laper demi ngeliat buku sejauh mata memandang. Ya namanya juga toko buku Mey, masak tumpukan jengkol yang mau lu liat. Buku yang pengen dibeli langsung disambar, buku ketiga dari trilogi A. Fuadi, Rantau 1 Muara. 

Nah, ini buku sempet bikin bingung adik ipar. Gara-gara salah ngasih judul, maksud hati mau bilang judul Rantau 1 Muara, apa daya malah keliru jadi Ranah 1 Muara. Otak rada kebolak-balik sama judul buku keduanya, yang mana judulnya adalah Ranah 3 warna. Nah, adik yang sengaja aku titipin buat beli buku itu, pulang dengan tangan hampa. Karena di Gramedia ga ada buku dengan judul begitu.
Hehehehe, Mas A. Fuadi, maafkan saya membolak-balik judul buku Anda.
Nah, balik ke ceritaku sendiri saat shopping ke Gramedia. Buku pilihan sudah di tangan, saatnya hunting buku kedua. Pilihan hati jatuh pada Raditya Dika. Setelah bulan kemarin beli Cinta Brontosaurus. Rupanya ga sia-sia, sepanjang malem perut nahan ketawa baca tulisan ngebanyol ala doi. 
Seudah dipikir-pikir, sebenernya apa yang ditulis sama si Dika itu kan kehidupan sehari-harinya. Sempet mikir apa keluarga doi emang sekonyol itu. Setelah menimbang-nimbang, kadang hidup kita sendiri juga berwarna-warni deh. Coba kita sekali-kali tulisin apa pengalaman yang kita dapet dalam sehari ke tulisan. Dijamin, suatu saat kita bakal terkaget-kaget. Kalau jaman kita kecil mungkin semacem mengisi buku Diary. Sementara untuk zaman sekarang yang serba internet ini, nulisnya ya di blog. 
Berbekal dengan kesadaran ‘yang datang terlambat’ itu, aku pun memutuskan untuk semakin rajin mengisi blog ini. Sukur-sukur ada yang baca, sukur-sukur ada yang ketawa. Entah ikutan ketawa sama yang aku tulis, entah karena ngetawain cara aku nulis. It’s okay, ga masalah. Ada yang mau baca aja udah sukur, hehehehe.
Jadi, tadaaaaaaaaaaaaaa dengan semangat 45, aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk mengisi blog ini dengan segala macam tulisan.

Sabtu, 08 Juni 2013

L O V E



Aku ingin berhenti

Menjadi bayang-bayang ilusi

Aku ingin dimiliki

Dianggap dan dicintai



Kini aku sekarat

Kau ikatku terlalu kuat

Entah karena kau yang hebat

Atau aku terlalu terjerat



Cinta ini menjadi menyiksa

Meski awalnya aku bahagia

Tapi untuk apa

Jika semua tak nyata

Jodoh Tak Lagi Bertemu

Ku pernah berdoa
Semoga Tuhan menjadikan kita berjodoh
Ketika pada akhirnya aku tak bersamamu
Kubilang kita tak berjodoh
Tapi kau menyangkal
Bukan tak, tapi belum

Apa itu jodoh
Alasanku bersamanya
Tak semata karena aku berjodoh
Alasanku meninggalkanmu pun
Bukan karena kita tak berjodoh

Jodoh jodoh jodoh
Begitu hebatkah kata itu

Jodoh atau tak jodoh
Tak bisa ditentukan kini
Dengan siapa kita ketika nanti mati
Itulah jodoh
Itu katamu

Siapa yang memilikiku kini
Adalah belahan jiwaku
Orang yang telah kupilih
Apakah dia jodohku atau bukan
Tapi dia adalah jalanku

Carilah jalanmu
Jalanku tak lagi jalanmu

Senin, 03 Juni 2013

Bumi vs Rembulan



hatiku seperti terpahat
tercengkeram dan terikat
meski tahu tak akan satu
kumiliki kau dalam benakku

Kau Bumi dan aku Rembulan
kita memang tak sejalan
tapi kita bersisian
Ku tahu ini tak pasti
tapi ku tak ingin pergi
bukan ku tak punya nyali
kau terlalu indah tuk kumiliki