"Zizi.....
ada telepon tuh buat kamu." teriakan Mama dari lantai bawah membangunkan
aku dari tidur-tidur ayamku. Dengan malas aku mengangkat tubuhku dari atas
kasur.
"Dari siapa
Ma?"
"Kurang
tahu, suara cowok sih. Tapi kan emang yang nyari kamu cowok semua yah."
jawab Mama sambil terkikik. Mama sedang memegang adonan roti di tangannya.
Kelihatannya sih mau bikin donat, makanan kesukaan anaknya yang cantik ini.
Aku meloncati dua
anak tangga sekaligus. Kusambar telepon yang ditempel di dinding tangga. Aturan
dari ayah, telepon ga
boleh dibuat paralel. Memang jadi ribet sih, apalagi kamarku posisinya di atas.
Cuma siapa yang berani ngebantah aturan dari bos besar. "Biarin aja
telepon cukup satu di sini, jadi yang sering pakai telepon kan jadi ketauan tuh." kata beliau dulu.
Sejak saat itu, sampai sekarang 4 tahun sudah ayah meninggal, aturan itu tetap berjalan. Ahh,,aku jadi
inget ayah deh.
"Halo, sapa
nih?" sapaku.
Lama tak
terdengar suara, tadinya aku pikir udah ditutup. Tapi nadanya sih masih
tersambung. Ah, dasar nih, telepon iseng, batinku.
"Sapa nih,
hoiii, ngomong dong. Tutup juga nih!" bentakku.
"Hahahaha"
Suara cowok,
tawanya terdengar familiar di gendang telingaku. Hah...masa iyah, tapi bisa aja
kan?